KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmatNya penulis dapat menyelesaikan penulisan Materi Ajar Berbasis Problem Based Learning
Modul 3 Pendalaman Materi Sejarah Indonesia Kegiatan Belajar 3 Perlawanan Rakyat
Indonesia Terhadap Pemerintahan Kolonial.
Materi Ajar Berbasis
Problem Based Learning Modul 3 Pendalaman Materi Sejarah
Indonesia Kegiatan Belajar 3 Perlawanan Rakyat Indonesia Terhadap Pemerintahan
Kolonial ini penulis susun untuk memenuhi tugas dan tagihan mahasiswa PPG Dalam
Jabatan tahun 2021 Universitas Pattimura Ambon pada tahap Pendalaman Materi yaitu
Penyusunan Materi Ajar Berbasis Masalah untuk mengidentifikasi permasalahan
pembelajaran yang dialami Mahasiswa PPG yang disebabkan oleh defisit kompetensi
maupun miskonsepsi. Dalam materi ajar ini penyusun menyajikan beberapa referensi dan
solusi untuk mengatasi defisit kompetensi dan miskonsepsi dalam pembelajaran Modul 3
Pendalaman Materi Sejarah Indonesia Kegiatan Belajar 3 Perlawanan Rakyat Indonesia
Terhadap Pemerintahan Kolonial. Materi ajar ini dikembangkan dengan mengedepankan
pendekatan higher order thinking skill (HOTS).
Penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu
penulis dalam menyelesaikan bahan ajar ini. Terimakasih atas kerja keras dan masukan
berharganya dan semoga materi ajar ini bermanfaat untuk mahasiswa PPG,



22 September 2021

PENDAHULUAN
Dalam pembelajaran Sejarah Indonesia ada beberapa materi yang akan dipelajari.
Pada materi ini akan membahas Kolonialisme Bangsa Eropa dalam kurikulum 2013 tingkat SMA.
Mengenai Perlawanan Rakyat Indonesia Terhadap pemerintahan Kolonial.
Eropa menjadi peradaban yang tidak hanya berkisah tentang kebesaran dan kemajuan, tetapi
catatan kelam atas bangsa-bangsa Eropa di era kolonialisme menjadi pelajaran berharga yang dapat
dipelajari sebagai sebuah pengalaman kita dalam berbangsa. Meskipun 350 tahun dijajah kini telah
dimitoskan karena banyaknya fakta baru yang ditemukan oleh para ilmuan dan sejarawan tentang hal
tersebut, tetapi bangsa Indonesia tidak bisa mengelak, bahwa penjajahan di Bumi Nusantara memang
ada dan nyata. Penjajahan itu dalam konteks historis sedikit banyak menyisakan catatan kelam yang
membuat geram, marah, dan perasaan tidak nyaman lain yang mempengaruhi cara pandang kita
terhadap bangsa lain. Di sisi lain,
historia magistra vitae atau sejarah merupakan guru terbaik yang akan
memberikan gambaran atas apa yang terjadi di masa lalu, dan bagaimana bersikap di masa mendatang.
mampu memberikan kisah terbaik dari pengetahuan yang dimilikinya tentang sejarah. Kisah-kisah itu
merupakan ujung tombak yang akan menancap kuat di hati siswa sehingga mereka akan mencintai
sejarah bangsanya tanpa menumbuhkan sikap negatif seperti kebencian dan stereotip. Sejarah adalah
tentang hitam dan putih, tidak bisa kita menikmati sejarah dari hitamnya saja, atau dari putihnya saja.
Tetapi keduanya merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Oleh sebab itu, mempelajari
sejarah total berarti membaca seutuhnya konstruksi sejarah, yang tidak hanya mencakup satu aspek,
melainkan banyak aspek.
1. KOMPETENSI DASAR SEJARAH INDONESIA SMA/MA KELAS XI
1.1 Kompetensi Inti
3 Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual,
prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan,
teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan,
kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan
pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan
minatnya untuk memecahkan masalah

4 Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural
berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan
humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban
terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural
pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan
masalah. Mengolah, menalar, dan menyajidalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait
dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu
menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan
1.2 Kompetensi Dasar
3.2 Menganalisis strategi perlawanan bangsa Indonesia terhadap penjajahan bangsa Eropa
(Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris) sampai dengan abad ke-20
4.2 Mengolah informasi tentang strategi perlawanan bangsa indonesia terhadap penjajahan
bangsa Eropa (Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris) sampai dengan abad ke-20 dan
menyajikannya dalam bentuk cerita sejarah
1.3 Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK)
3.2.1
Menjelaskan latar belakang perlawanan rakyat Indonesia terhadap penjajahan bangsa
Eropa
3.2.2. Menjelaskan perlawanan rakyat Indonesia terhadap hegemoni kongsi dagang
3.2.3. Menganalisis perlawanan rakyat Indonesia terhadap penjajahan pemerintah Belanda.
4.2.1. Membuat review tentang strategi perlawanan bangsa indonesia terhadap penjajahan
bangsa Eropa sampai dengan abad ke-20
1.4 Tujuan Pembelajaran
Melalui kegiatan Belajar Mandiri Siswa diharapakan dapat :
1. Menjelaskan latar belakang perlawanan rakyat Indonesia terhadap
penjajahan bangsa Eropa
2. mendeskrifsikan perlawanan Masyarakat Indonesia terhadap penjajahan
Eropa
3 Mereview tentang strategi perlawanan bangsa indonesia terhadap penjajahan bangsa Eropa
sampai dengan abad ke-20

2. URAIAN MATERI
2.1 Peta Konsep
Berikut Peta Konsep dari uraian materi
Beberapa bangsa Eropa pernah melakukan kolonisasi di Indonesia. Bangsa-bangsa itu
antara lain adalah bangsa Portugis, Spanyol, Belanda, Perancis, dan Inggris. Bangsa Eropa
pertama yang pernah menjajah Indonesia ialah Portugis. Spanyol juga pernah menjajah
Indonesia, tepatnya di Minahasa, Sulawesi Utara. Belanda merupakan salah satu bangsa Eropa
yang paling lama menjajah wilayah Nusantara, yakni sekitar 350 tahun atau sekitar 3 setengah
abad. Selama itu, Belanda berhasil menguasai beberapa wilayah Nusantara. diantaranya wilayah
Sumatera, Jawa, Sulawesi dan Papua.
Jenderal Daendels memang merupakan seorang Belanda. Namun dia bekerja untuk
kerajaan Prancis di bawah kekauasaan Raja Napoleon. Awal mula Jenderal Daendels dikirim ke
Indonesia untuk melindungi Belanda dari serangan Inggris.
Bukti lain bahwa Indonesia pernah dijajah Prancis adalah beredarnya mata uang dengan
inisial huruf ‘LN’ yang merupakan singkatan dari penguasa Prancis saat itu, Louis Napoleon.
Pada 17 Sepetember 1811, pemerintah Inggris secara langsung mengangkat Thomas Stamford
Raffles sebagai gubernur jenderal di Indonesia. Namun, penajahan bangsa Inggris di Indonesia
tidak berlangsung lama. Pada tahun 1816, Inggris resmi mengakhiri kekuasannya diIndonesia.
Menghadapi kolonialisme dan imperialisme bangsa-bangsa Eropa tersebut bangsa
Indonesia tidak tinggal diam. Kemiskinan, kesengsaraan, kemelaratan, dan kebodohan serta
penghinaan karena penjajahan dirasakan oleh sebagian besar penduduk Indonesia. Hasrat
untuk melepaskan diri dari penderitaan telah tertanam di hati sanubari rakyat. Mereka bangkit

mengadakan perlawanan terhadap bangsa penjajah. Senjata mereka sangat sederhana. Keris,
rencong, badik, kelewang, bedil, dan meriam dalam ukuran yang kecil. Tombak dan sumpit pun
dipergunakan juga untuk melawan penjajah.
Perlawanan menentang kolonialisme dan imperialisme Barat sebagai reaksi terhadap
pengaruh kolonialisme dan imperialisme yang sangat merugikan baik dari segi politik, ideologi,
sosial, ekonomi maupun budaya di Indonesia, dapat dikelompokkan dalam dua periode besar
menurut kontek waktu. Pertama, perlawanan terhadap para pedagang Barat yang berpolitik,
seperti para pedagang
Portugis, VOC dan EIC yang terjadi sepanjang abad ke –16 sampai akhir abad ke – 18.
Kedua, perlawanan terhadap pemerintahan Hindia Belanda sejak abad ke–19. Perlawanan
menentang kolonialisme dan imperialisme ini dilakukan oleh pihak kerajaan, elit lokal dan rakyat
dengan motif dan bentuk gerakan yang berbeda. Satu hal yang pasti, perlawanan ini muncul
seiring dengan perluasan kolonialisme dan imperialisme Barat di berbagai wilayah di Indonesia.
1. 2.2. Perlawanan Bangsa Indonesia terhadap Penjajahan Portugis
Portugis merupakan salah satu negara pelopor penjelajahan samudera. Pada awalnya
kedatangan bangsa Portugis untuk mencari tempat penghasil rempah rempah. Pada April 1511,
Afonso de Albuquerque bertolak dari Goa menuju Malaka, membawa 1200 orang dengan tujuh
belas atau delapan belas kapal. Sang Raja Muda mengajukan sejumlah tuntutan, salah satunya
adalah izin mendirikan sebuah benteng sebagai pos dagang Portugis di dekat kota. Sultan
Malaka menampik seluruh tuntutan, konflik tak terelakkan lagi, dan setelah bertempur selama 40
hari, Malaka pun jatuh ke tangan Portugis pada 24 Agustus 1511. Pertikaian sengit antara Sultan
Mahmud dan puteranya Sultan Ahmad turut pula melemahkan pihak Malaka. Selepas kekalahan
Kesultanan Malaka pada 15 Agustus 1511 dalam peristiwa perebutan Malaka, Afonso de
Albuquerque mulai berupaya membangun kubu pertahanan permanen guna mengantisipasi
serangan balasan dari Sultan Mahmud. Sebuah benteng dirancang dan dibangun mengungkungi
sebuah bukit, menyusuri garis pantai, di tenggara muara sungai, menempati bekas lahan istana
Sultan. Albuquerque tinggal di Malaka sampai November 1511 demi mempersiapkan pertahanan
Malaka menghadapi segala bentuk serangan balasan dari orang-orang Melayu.Sultan Mahmud
Syah terpaksa harus mengungsi meninggalkan Malaka. Penguasaan Portugis terhadap Malaka
kemudian memunculkan berbagai perlawanan bangsa Indonesia yang juga mendapat bantuan
dari Tiongkok.
Kesultanan Malaka adalah salah satu negara sekutu Dinasti Ming di Tiongkok.
Penaklukan Malaka oleh Portugal pada 1511 dibalas Tiongkok dengan perlakuan kejam
terhadap orang-orang Portugis. Pemerintah Kekaisaran Tiongkok di Guangzhou memenjarakan
dan menghukum mati banyak utusan diplomatik Portugis sesudah terlebih dahulu menyiksa
mereka. Akibat keluhan yang diajukan Sultan Malaka mengenai invasi Portugis kepada Kaisar
Tiongkok, orang-orang Portugis disambut dengan sikap permusuhan oleh orang-orang Tionghoa
tatkala mereka tiba di Tiongkok. Para pedagang Tionghoa memboikot Malaka setelah jatuh ke
tangan Portugis, beberapa orang Tionghoa di Jawa menyumbangkan kapal-kapal guna
membantu upaya-upaya kaum Muslim merebut kembali Malaka dari Portugal. Saudagar

saudagar Tionghoa berdagang dengan orang-orang Melayu dan orang-orang Jawa, tidak
dengan Portugis
Gambar 3.1. Kapal VOC
11. 2.2.1 Serangan Kerajaan Aceh terhadap Portugis
Sejak kedatangan orang Portugis di Malaka pada tahun 1511, telah terjadi persaingan yang
berbuntut permusuhan antara Portugis dan Kesultanan Aceh. Sultan Aceh pada waktu itu
diperintah oleh Sultan Ali Mughayat Syah (1514- 1528), menganggap bahwa orang Portugis
merupakan saingan dalam politik, ekonomi, dan penyebaran agama (Setyawan, Doni : 2016).
Latar belakang perlawanan rakyat Aceh terhadap Portugis antara lain: a. Adanya monopoli
perdagangan oleh Portugis
b. Pelarangan terhadap orang-orang Aceh untuk berdagang dan berlayar ke
Laut Merah
c. Penangkapan kapal kapal Aceh oleh Portugis.
Untuk itulah, Kesultanan Aceh tetap pada pendiriannya, bahwa Portugis harus segera diusir
dari Malaka. Itulah sebabnya, ketika terjadi penyerangan Kerajaan Demak ke Malaka, Aceh
membantunya dengan sekuat tenaga.
Oleh karena itu, tindakan kapal-kapal Potugis telah mendorong munculnya perlawanan
rakyat Aceh. Sebagai persiapan Aceh melakukan langkah-langkah antara lain:
a. Melengkapi kapal-kapal dagang Aceh dengan persenjataan, meriam dan prajurit
b. Mendatangkan bantuan persenjataan, sejumlah tentara dan beberapa ahli dari Turki pada
tahun 1567.
c. Mendatangkan bantuan persenjataan dari Kalikut dan Jepara.
Perlawanan Aceh terhadap Portugis di Malaka pertama kali dilakukan pada masa
pemerintahan Sultan Alaudin Riayat Syah. Untuk itu, Sultan Alaudin Riayat Syah mengirim
utusan ke Konstantinopel (Turki) untuk meminta bantuan militer dan permintaan khusus
mengenai pengiriman meriam-meriam, pembuatan senjata api, dan penembak-penembak. Selain
itu, Aceh juga meminta bantuan dari Kalikut dan Jepara.

Dengan semua bantuan dari Turki maupun kerajaan-kerajaan lainnya, Aceh mengadakan
penyerangan terhadap Portugis di Malaka pada tahun 1568. Namun penyerangan tersebut
mengalami kegagalan. Meskipun demikian, Sultan Alaudin telah menunjukkan ketangguhan
sebagai kekuatan militer yang disegani dan diperhitungkan di kawasan Selat Malaka.
Gambar 3.2. Sultan Iskandar Muda
Sejak Portugis dapat menguasai Malaka, Kerajaan Aceh merupakan saingan terberat
dalam dunia perdagangan. Para pedagang muslim segera mengalihkan kegiatan
perdagangannya ke Aceh Darussalam. Keadaan ini tentu saja sangat merugikan Portugis secara
ekonomis, karena Aceh kemudian tumbuh menjadi kerajaan dagang yang sangat maju. Melihat
kemajuan Aceh ini, Portugis selalu berusaha menghancurkannya, tetapi selalu menemui
kegagalan.
Setelah berbagai bantuan berdatangan, Aceh segera melancarkan serangan terhadap
Portugis di Malaka. Portugis harus bertahan mati-matian di Formosa/Benteng. Portugis harus
mengerahkan semua kekuatannya sehingga serangan Aceh ini dapat digagalkan. Sebagai
tindakan balasan pada tahun 1569 Portugis balik menyerang Aceh, tetapi serangan Portugis di
Aceh ini juga dapat digagalkan oleh pasukan Aceh.
Raja Kerajaan Aceh yang terkenal sangat gigih melawan Portugis adalah Iskandar Muda.
Pada tahun 1615 dan 1629, Iskandar Muda melakukan serangan terhadap Portugis di Malaka.
Penyerangan terhadap Portugis dilakukan pada masa Sultan Iskandar Muda memerintah. Pada
tahun 1629, Aceh menggempur Portugis di Malaka dengan sejumlah kapal yang memuat 19.000
prajurit. Pertempuran sengit tak terelakkan yang kemudian berakhir dengan kekalahan di pihak
Aceh.
Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1639) armada kekuatan Aceh
telah disiapkan untuk menyerang kedudukan Portugis di Malaka. Saat itu Aceh telah memiliki
armada laut yang mampu mengangkut 800 prajurit. Pada saat itu wilayah Kerajaan Aceh telah
sampai di Sumatera Timur dan Sumatera Barat. Pada tahun 1629 Aceh mencoba menaklukkan
Portugis. Penyerangan yang dilakukan Aceh ini belum berhasil mendapat kemenangan. Namun
demikian Aceh masih tetap berdiri sebagai kerajaan yang merdeka.
Sejak Kesultanan Aceh diperintah oleh Sultan Iskandar Muda (16071636), perjuangan
mengusir Portugis mencapai puncaknya (Sahid, Syahmi : 2016). Untuk mencapai tujuannya,

Sultan Iskandar Muda menempuh beberapa cara untuk melumpuhkan kekuatan Portugis,
seperti blokade perdagangan. Sultan Aceh melarang daerah-daerah yang dikuasai Aceh
menjual lada dan timah kepada Portugis. Cara ini dimaksudkan agar kekuatan Portugis
benarbenar lumpuh, karena tidak memiliki barang yang harus dijual di Eropa. Upaya ini ternyata
tidak berhasil sepenuhnya, sebab raja-raja kecil yang merasa membutuhkan uang secara
sembunyi-sembunyi menjual barang dagangannya kepada Portugis. Gagal dengan taktik
blokade ekonomi, Sultan Iskandar Muda menyerang kedudukan Portugis di Malaka pada tahun
1629. Seluruh kekuatan tentara Aceh dikerahkan. Namun, upaya itu mengalami kegagalan.
Pasukan Kesultanan Aceh dapat di pukul mundur oleh pasukan Portugis. Faktor penyebab
kegagalan serangan Aceh terhadap Portugis di Malaka adalah:
a. Tidak dipersiapkan dengan baik
b. Perlengkapan senjata yang digunakan masih sederhana
b. Terjadi konflik internal dikalangan pejabat Kerajaan Aceh
Usaha-usaha Aceh Darussalam untuk mempertahankan diri dari ancaman
Portugis antara lain:
a. Aceh berhasil menjalin hubungan baik dengan Turki, Persia, dan Gujarat
(India),
b. Aceh memperoleh bantuan berupa kapal, prajurit, dan makanan dari beberapa pedagang
muslim di Jawa,
c. Kapal-kapal dagang Aceh dilengkapi dengan persenjataan yang cukup baik dan prajurit
yang tangguh,
d. Meningkatkan kerja sama dengan Kerajaan Demak dan Makassar.
Permusuhan antara Aceh dan Portugis berlangsung terus tetapi sama-sama tidak berhasil
mengalahkan, sampai akhirnya Malaka jatuh ke tangan VOC tahun 1641. VOC bermaksud
membuat Malaka menjadi pelabuhan yang ramai dan ingin menghidupkan kembali kegiatan
perdagangan seperti yang pernah dialami Malaka sebelum kedatangan Portugis dan VOC.
Kemunduran Aceh mulai terlihat setelah Iskandar Muda wafat dan penggantinya adalah
Sultan Iskandar Thani (1636–1841). Pada saat Iskandar Thani memimpin Aceh masih dapat
mempertahankan kebesarannya. Tetapi setelah Aceh dipimpin oleh Sultan Safiatuddin (1641–
1675) Aceh tidak dapat berbuat banyak mempertahankan kebesarannya.
12. 2.2.2 Serangan Demak terhadap Portugis di Malaka
Perlawanan kesultanan Demak terjadi karena kesultanan-kesultanan islam yang lain
juga terancam terhadap kedudukan Portugis di Malaka. Kedatangan bangsa Portugis ke
Pelabuhan Malaka yang dipimpin oleh Diego Lopez de Sequeira menimbulkan kecurigaan
rakyat Malaka. Malaka jatuh ke tangan Portugis pada 1511. Akibatnya, aktivitas perdagangan di
pelabuhan Malaka menjadi terganggu karena banyak pedagang Islam yang merasa dirugikan.
Akibat dominasi Portugis di Malaka telah mendesak dan merugikan kegiatan
perdagangan orang-orang Islam. Oleh karena itu, Sultan Demak R. Patah mengirim
pasukannya di bawah Pati Unus untuk menyerang Portugis di Malaka. Perlawanan rakyat

Demak tersebut dipimpin oleh Adipati Unus. Pati Unus melancarkan serangannya pada tabun
1512 dan 1513. Dengan kekuatan 100 kapal laut dan lebih dari 10.000 prajurit Adipati Unus
menyerang Portugis.
Namun, serangan tersebut mengalami kegagalan dan belum berhasil. Kemudian pada
tahun 1527, tentara Demak kembali melancarkan serangan terhadap Portugis yang mulai
menanamkan pengaruhnya di Sunda Kelapa. Di bawah pimpinan Fatahillah tentara Demak
berhasil mengusir Portugis dari Sunda Kelapa. Nama Sunda Kelapa kernudian diubah menjadi
Jayakarta.
13. 2.2.3 Perlawanan Adipati Unus (1518 – 1521)
Hanya kurang lebih satu tahun setelah kedatangan Portugis di Malaka (1511),
perlawanan terhadap dominasi Barat mulai muncul. Jatuhnya Malaka ke pihak Portugis sangat
merugikan jaringan perdagangan para pedagang Islam dari Kepulauan Indonesia. Solidaritas
sesama pedagang Islam terbangun saat Malaka jatuh ke pihak Portugis. Kerajaan Aceh,
Palembang, Banten, Johor, dan Demak bersekutu untuk menghadapi Portugis di Malaka. Pada
tahun 1513,
Demak mengadakan penyerangan terhadap Portugis di Malaka. Penyerangan tersebut
dipimpin oleh Adipati Unus, putra Raden Patah. Namun, serbuan Demak tersebut mengalami
kegagalan. Penyebab kegagalan serangan Demak ke Portugis di Malaka adalah:
a. Serangan tersebut tidak dilakukan dengan persiapan yang matang
b. Jarak yang terlalu jauh
c. Kalah persenjataan
Dipati Unus atau Yunus adalah putra Raden Patah, penguasa Kerajaan Demak di
Jawa. Dipati Unus mendapat sebutan “Pangeran Sabrang Lor“ karena jasanya memimpin
armada laut Demak dalam penyerangan ke Malaka. Pemerintahan Pangeran Sabrang Lor
tidak berlangsung lama, dari tahun 1518 – 1521.
14. 2.2.4 Perlawanan Fatahillah (1527 – 1570)
Dalam rangka memperluas ekspansinya ke daerah Barat, Demak mengirim
Fatahillah untuk menggagalkan rencana kerja sama antara Portugis dan Pajajaran. Pada
tahun 1527, Fatahillah mengadakan penyerangan terhadap Portugis di Sunda Kelapa.
Serangan tersebut berhasil mengusir Portugis dari Sunda Kelapa. Selanjutnya pada tanggal
22 Juni 1527 nama Sunda Kelapa diganti menjadi Jayakarta atau Jakarta yang berarti
kemenangan yang sempurna. Fatahillah diangkat oleh Sultan Trenggono sebagai wakil Sultan
Demak yang memerintah di Banten dan Jayakarta.
Fatahillah dilahirkan sekitar tahun 1490 di Pasai, Sumatra Utara. Nama lain Fatahillah
adalah Falatehan, Fadhilah Khan, Ratu Bagus Pase, dan Ratu Sunda Kelapa. Ayahnya
bernama Maulana Makhdar Ibrahim selaku guru agama Islam di Pasai kelahiran Gujarat,
India Selatan.

15. 2.2.5 Perlawanan Rakyat Maluku
Berdasarkan Perjanjian Saragosa (1529), Portugis tetap menguasai daerahdaerah di
Maluku. Sejak itu pengaruh Portugis di Maluku semakin besar. Portugis berhasil
memaksakan monopoli perdagangannya. Rakyat Maluku kehilangan kebebasannya dan
mengalami kerugian yang sangat besar. Selain itu, Portugis mulai mencampuri urusan
pemerintahan kerajaan-kerajaan di Maluku. Rakyat Maluku semakin tertekan sehingga
mereka mulai melakukan perlawanan terhadap portugis.
Sebab Perlawanan Rakyat Ternate Perlawanan ini terjadi karena sebab-sebab berikut
ini: a. Portugis melakukan monopoli perdagangan.
b. Portugis ikut campur tangan dalam pemerintahan.
c. Portugis ingin menyebarkan agama Katholik, yang berarti bertentangan dengan
agama yang telah dianut oleh rakyat Ternate.
d. Portugis membenci pemeluk agama Islam karena tidak sepaham dengan mereka.
e. Portugis sewenang-wenang terhadap rakyat.
f. Keserakahan dan kesombongan bangsa Portugis.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, maka kehendak Portugis ditolak oleh raja
Ternate. Rakyat Ternate dipimpin oleh Sultan Hairun bersatu dengan Tidore melawan
Portugis, sehingga Portugis dapat didesak.
Perlawanan rakyat Maluku membuat Portugis terdesak dan meminta bantuan dari
Malaka. Bala bantuan pun segera datang dari Malaka yang dipimpin oleh
Antonio Galvao .
Pasukan ini berhasil mengalahkan Ternate sehingga Antonio Galvao berkuasa di Maluku
selama empat tahun (1536-1540). Dibawah kepemimpinan Antonio Galvao, Portugis dapat
bersahabat dengan rakyat Maluku. Namun, setelah Galvao digantikan oleh penguasa lain,
nafsu serakah Portugis muncul lagi dan semakin ganas.
Portugis memaksa Sultan Ternate, yaitu Sultan Hairun untuk menerima kekuasaan
Portugis, dan hanya menjual cengkih dan pala kepada Portugis. d Ketika Sultan Hairun
akan membicarakan masalah perdagangan dengan Portugis ini, beliau dibunuh secara licik.
Rakyat Maluku tidak tinggal diam, perlawanan kembali berkobar.
Perlawanan Rakyat Ternate dipimpin oleh Sultan Hairun. Pada tahun 1565 Portugis
semakin terdesak dan siasat perundingan pun mulai dijalankan oleh Portugis. Perundingan
antara kerajaan Ternate dan Portugis diadakan pada tahun 1570. Dalam perudingan
tersebut Portugis melakukan kelicikan, yaitu membunuh Sultan Hairun. Terbunuhnya,
Sultan Hairun jelas memancing kemarahan rakyat Ternate.
Perlawanan rakyat Ternate dilanjutkan di bawah pimpinan Sultan Baabullah (putera Sultan
Hairun). Bersama rakyat, Sultan Baabullah bertekad menggempur Portugis. Pasukan Sultan
Baabullah memusatkan penyerangan untuk mengepung benteng Portugis di Ternate. Lima tahun
lamanya Portugis mampu bertahan di dalam benteng yang akhirnya menyerah pada tahun 1575
karena kehabisan bekal. Kemudian Portugis melarikan diri ke Timor Timur.
Pada tahun 1574 benteng Portugis dapat direbut, kemudian Portugis menyingkir ke Hitu dan
akhirnya menguasai dan menetap di Timor-Timur sampai Tahun 1975.

1. 2.3 Perlawanan Bangsa Indonesia terhadap
Penjajahan Spanyol
Pada bulan Oktober 1521, sejumlah armada yang memuat orang-orang Spanyol tiba di
Tidore. Sebelumnya mereka tergabung dalam musafir penjelajah samudra Ferdinand
Magelhaens. Sebagian rombongan kapal Spanyol ini kemudian memisahkan diri dari induknya
dan berlabuh di salah satu tempat di Minahasa. Armada itu telah berlabuh di Kima. Penulis
sejarah Minahasa, Palar dalam bukunya Wajah Lama Minahasa (2009) memperkirakan,
kemungkinan besar tempat mereka mendarat adalah daerah Kima Kecamatan Molas Manado
kini. Menurutnya, orang-orang Babontehu yang mendiami pulau-pulau di sekitar Manado-lah
yang pertama kali berkomunikasi dengan armada Spanyol tersebut.
Masyarakat Babontehu memperkenalkan orang-orang Spanyol kepada masyarakat
maka
tana
(pemilik tanah) sebagai orang-orang Tasikkela. Penduduk Tumpaan Wenang itu adalah
keturunan dari tanah Tombulu. Tapi
maka tana tampak acuh tak acuh terhadap orang-orang
Spanyol. Karena itulah armada itu berlayar terus ke arah selatan dan mendarat di Uwuren
Amurang. Daerah teluk yang indah di Kabupaten Minahasa Selatan kini. Uwuren dijelaskan
sebagai tempat orang membuat sagu.
Usai menurunkan awaknya, kapal itu balik kembali ke Tumpahan Wenang. Menanti para
penumpang yang tengah melakukan ekspedisi di wilayah pegunungan Malesung. Sebutan untuk
Minahasa di zaman itu. Di Uwuren Amurang, kemudian hari dijadikan benteng oleh orang-orang
Spanyol. Dari data yang ada, Palar memperkirakan jika benteng itu dibangun Laksamana
Spanyol Bartolomeus de Soisa tahun 1651.
Ekpedisi awal Spanyol ke pedalaman Minahasa dilakukan dari teluk Amurang. Dari
Uwuren, orang-orang Spanyol bergerak ke Cali (Kali), wilayah Tombatu kini. Sebuah desa yang
disebut dekat danau bernama Wasian Uwuren atau Tonsawang. Tempat yang ketika itu
terkenal sebagai salah satu daerah penghasil padi terbesar di Minahasa. Dalam ekspedisi lain,
orang-orang Spanyol menyusuri sungai Rano I Apo atau Ranoyapo (air dari Tuhan). Dari
Amurang mereka menjelajahi daerah pegunungan Motoling dan tiba di Pontak. Di daerah ini,
mereka juga mendapati hasil beras yang melimpah. Tak heran, tim ekspedisi Spanyol itu
membangun gudang beras di Pontak.
Tak hanya merayapi wilayah Motoling dan Tonsawang, orang-orang Spanyol Mereka
melewati Tombasian, Wanua Wangko atau Kawangkoan, terus ke daerah Tombulu-Katinggolan
atau Woloan Tua, turun ke Kali Pineleng dan kembali ke dataran Wenang. Saat kembali ke
Wenang, orang-orang Spanyol mulai mendirikan banteng, membangun perkampungan. Orang
Tombulu menyebut perkampungan mereka dengan
Winaror ni Tasikela.
Kehadiran orang asing itu ternyata sangat mengusik masyarakat Minahasa.
Apalagi yang mendiami wilayah pegunungan. Sejak awal para
raindang wu’uk (rambut merah)
tidak diterima. Tidak mengherankan jika dalam ekspedisi awal, banyak tentara Spanyol tewas,
dibunuh para
waraney (ksatria Minahasa). Sisasisa pelindung kepala dan senjata yang
dirampas para waranei di masa itu masih bisa dilihat saat ini. Peralatan perang berusia ratusan
tahun tersebut sering digunakan para penari kabasaran.
Periode pertama Spanyol di Minahasa ada di masa 1520-1562, dan periode kedua
1980-1694 Di tahun 1562, Spanyol digusur Portugis dari perairan Maluku dan Sulawesi.

Peristiwa itu terjadi terutama karena perjanjian Saragosa antara kedua bangsa. Karena itu
Spanyol kemudian memusatkan kekuasaannya di Manila Filipina.
Sejarah melukiskan, tahun 1580 terjadi perubahan politik di Eropa. Negara adikuasa
Portugis didera resesi ekonomi dalam negeri. Akibatnya, terjadi emigrasi besar-besaran
warga Portugis ke kawasan-kawasan koloninya. Begitu kekuatan dalam negeri Portugis
melemah, Spanyol melakukan serangan ke Portugis dan dengan mudah menaklukkan negeri
itu. Tanah-tanah jajahan negara itu juga akhirnya satu per satu jatuh ke tangan Spanyol.
Spanyol dan Portugis akhirnya dipersatukan di bawah bendera Spanyol. Masa itu,
kekuasaan Portugis di Maluku berakhir. Tahun 1617, serdadu-serdadu Spanyol kembali
datang dan menetap di Manado. Namun pengalaman kehadiran mereka di masa awal masih
tetap terjadi. Orang batasaina (orang Minahasa gunung) tetap mengacuhkan mereka. Para
highlanders Minahasa tak mau bersahabat dengan mereka.
Pater Blas Palomino dalam Surat Laporan dari Manado 8 Juni 1619 mengisahkan, 4
Februari tahun 1619 mereka meninggalkan Manila dan mendarat di Manado pada bulan Maret.
Saat itu, komandan pasukan Spanyol di Manado langsung mengundang para
Ukung (Kepala
Kampung) dan membicarakan rencana kerja para misionaris ini. Para
Ukung dengan sangat
hormat mengundang mereka masuk ke daerah pedalaman. Namun tak ada satu kampung pun
yang mau menerima Pastor Blas Palomino, Diego de Royas dan Bruder Juan de S. Mernardino.
Para misonaris ini sempat tinggal di Manado sampai tahun 1622 sampai akhirnya
memutuskan berangkat ke Makasar. Bulan Agustus tahun 1622, dari Makasar mereka
bermaksud ke Maluku. Singgahlah mereka di pantai utara Minahasa. Dengan kawalan ketat para
serdadu Spanyol, tim misionaris ini kembali berusaha menjumpai para penduduk. Naas, Pastor
Blas Palomino dan penerjemahnya Joao da Palma ditombak masyarakat setempat. Di Madrid
Spanyol, 2 Juni 1627, Pedro de la Conception mengungkap dalam Catatan Hariannya 10
Agustus 1622, dengan mata kepalanya ia menyaksikan langsung kematian tragis Pastor Blas
Palomino dan Joao da Palma itu.
Kedatangan kedua orang Spanyol ke Minahasa benar-benar penuh hasrat untuk
meguasai dan mengeruk seluruh potensi ekonomi yang ada di tanah Malesung. Serdaduserdadu Spanyol serta para
mesticos (turunan campuran Spanyol-Minahasa) mulai bertindak
brutal dan tidak manusiawi terhadap penduduk Minahasa. Tindakan itu telah membuat
kebencian orang Minahasa terhadap orang-orang Spanyol semakin mendalam.
Sementara, para
mesticos semakin gila memeras rakyat demi “bos-bos” Spanyol-nya.
Para serdadu tak kalah gila. Mereka semena-mena merampas apa saja dari penduduk bahkan
memperkosa para perempuan. Bersenjata bedil, dengan menunggangi kuda, para serdadu
memaksa masyarakat membawa beras mereka ke gudang beras Spanyol di Manado. Rakyat
Minahasa tak segan-segan diperlakukan seperti hewan angkut. Bahkan ada tanah
Ukung
dirampas. Rakyat Minahasa dipaksa memenuhi semua kebutuhan beras Spanyol.
Praktek kekejaman yang diperagakan orang-orang Spanyol telah melampaui kesabaran
orang Minahasa. Peristiwa-peristiwa yang memancing amarah rakyat telah menindih. Sejumlah
kisah yang membakar semangat perlawanan tersimpan kuat dalam benak. Ingatan-ingatan itu
terus meronta untuk lepas.

Palar mengisahkan, satu ketika tantara Spanyol di bawah pimpinan Don Pedro Alkasas
tiba di daerah Tolour yang biasa ramai dikerumuni masyarakat. Mereka mengundang penduduk
untuk turut bersantai. Ukung Mononimbar yang mulai menentang pedagang Spanyol ikut
menghadiri undangan yang tampak ramah itu. Namun, tunggakan beras yang telah lama
menumpuk rupanya dianggap Don Pedro sebagai kelalaian dan kesengajaan
Ukung Tondano
itu. Maka dalam keadaan lengah karena disodori alkohol, prajurit-prajurit Don Pedro menangkap
Mononimbar dengan mudah. Ia diikat dan digantung di atas pohon tinggi hingga menjadi
tontonan masyarakatnya sampai ajal menjemputnya. Peristiwa penghinaan ini sangat membekas
di hati orang-orang Tondano.
Aksi brutal juga dilakukan sepasukan tantara Spanyol dan Tidore di tanah Tonsea. Saat
sedang digelar sebuah
foso (upacara keagamaan) di Sawangan, mereka membunuh semua
Walian (pemimpin agama) yang hadir, menangkap dan menculik semua perempuan kemudian
menjadikan mereka hamba sahaya di banteng Spanyol.
Di wilayah Tombulu, pemerkosaan hak-hak manusiawi tantara Spanyol memuncak dalam
peristiwa yang menimpa keluarga Ukung Lumi. Rombongan pasukan datang bertamu. Mereka
kemudian dijamu dengan penuh hormat oleh Ukung Tomohon, sosok
Kelungum Banua
(pelindung negeri) yang sangat dihormati dan disegani masyarakatnya. Seperti kejadian di
Tondano, para prajurit menyodorkan alkohol kepada anggota keluarga Ukung Lumi, tanda balas
budi terhadap keramahan keluarga. Setelah sempoyongan, mereka mempergunakan
kesempatan itu untuk menculik dan melarikan putri Ukung Lumi bernama Tendenwulan.
Seluruh negeri seketika gempar mendengar kabar itu. Di bawah pimpinan panglima
perang Posumah, anak tertua Ukung Lumi, para
waraney yang sigap langsung mengejar dan
mengepung pasukan Spanyol di lereng Gunung Empung, daerah utara Kelurahan Kinilow
Tomohon kini. Secepat kilat pedang para
waraney menebas leher serdadu-serdadu Spanyol
yang telah terkepung. Bedil dan sable dalam genggaman tak sempat diayunkan. Sebagian tak
sempat bergerak karena tombak para
waraney telah menancap di jantung. Teriakan “I
Yayat u Santi” menggema. Tak satu pun tantara Spanyol yang dapat menyelamatkan diri dari
peristiwa itu. Tak ada yang berhasil kembali ke benteng mereka di Wenang.
Sebenarnya di Tomohon ia telah berulang kali terjadi konflik antar masyarakat dengan
para serdadu Spanyol dan panipagos karena perkosaan dan pemerasan. Namun, peristiwa 1644
itu telah membawa kemarahan masyarakat Minahasa ke titik puncak. Ketika kasus penghinaan
Ukung Lumi, ia masih sempat berhasil meredam amarah keluarga Ukung Tomohon itu. Tapi
tanggal 10 Agustus 1944, sepuluh ribu ribu
waraney dari 3 distrik, Toumuung, Kakaskasen dan
Sarongsong, telah berkumpul, bangkit memaklumkan perang. Hari itu juga 19 serdadu Spanyol
dan
panipagos terbunuh dan 22 orang ditawan. Awalnya para waraney hanya memerangi tentara
dan panipagos tapi dalam waktu singkat berubah menjadi perlawanan terbuka terhadap semua
orang Spanyol tanpa kecuali, termasuk para misonaris seperti Pastor Yranzo.
Perang terbuka sesungguhnya telah terjadi sejak awal kedatangan Spanyol di tanah
Minahasa. Namun perlawanan semakin kencang terjadi tahun 1644.
Tahun 1644, tahap awal konfrontasi total di seluruh wilayah Minahasa meletup. Penghinaan
terhadap para Ukung menjadi pemicu luapan dendam yang terpendam lama. Perang pun
berkecamuk dimana-mana.

Di masa inilah terjadi pertemuan di Watu Pinawetengan. PakasaanPakasan (wilayah yang
terdiri dari sejumlah wanua/desa), yang masyarakatnya masih terikat pertalian darah) yang
sebelumnya tercerai berai, bertempur mempertahankan wilayahnya sendiri-sendiri, kini menyatu.
Mahassa (komitmen untuk menyatu) diikrarkan. Kata itulah yang kemudian berubah menjadi
Minahasa. Kata yang menunjuk ke tanah dan orang yang mendiami wilayah Malesung.
Ketika itu, Kerajaan Bolaang Mongondow yang telah lama bermaksud menguasai wilayah
dan penduduk Minahasa, ikut membantu Spanyol. Pasukan mereka menyatu dan menyerang di
berbagai tempat. Upaya untuk membendung dan menghalau kekuatan gabungan pasukan
Spanyol dan Bolaang Mongondow akhirnya tercipta di seluruh wilayah Minahasa.
Di tanah Tonsea, pertempuran dahsyat terjadi di Kaburukan (pesisir pantai daerah Batu
Nona Kema) dan Kinawuudan. Para
teterusan (pemimpin perang), seperti Rumaya Porong,
Wenas Dumanaw dan Lengkong Wahani, secara perkasa menghancurkan tantara gabungan
Spanyol-Bolaang Mongondow di daerah sepanjang pantai Kema hingga Waleo dan sekitarnya.
Di Panasen dan lereng Lembean Tondano,
teterusan Tawaluyan, Wewengkang dan Retor,
memimpin para
waraney Pakasaan Tolour dan mengalahkan pasukan gabungan di wilayah itu.
Di selatan Minahasa, koalisi Spanyol-Bolaang Mongondow menyusup dan menyerang
pakasaan-pakasaan di wilayah itu. Tapi di lini timur daerah selatan Minahasa tersebut, Pakasaan
Pasanbangko berhasil mengalahkan pasukan gabungan. Mereka dipimpin
teterusan Pandey,
Lengsangalu, Tombokan, dibantu
waraney-waraney dari Pinantula dan Tompakewa yang
dipimpin teterusan Mewengkan dan Sumondak.
Di tempat lain, induk kekuatan Tompakewa Matana’ai telah berhasil memukul mundur
musuh-musuhnya sampai ke pantai Amurang. Mereka dibantu para
waraney Pakasaan Tombulu
yang dipimpin
teterusan Lumi-Worotikan, Wongkar-Sajouw, Kalele-Kinupit dan Sungepupus. Di
daerah ini pertempuran berlangsung lama karena pasukan Spanyol dan Bolaang Mongondow
selalu mendapat dukungan segar dari pusat kerajaan Bolaang Mongondow. Sebab jalur antara
Amurang dengan Bolaang Mongondow masih aman. Sementara, logistik tantara Spanyol
mendapat sokongan dari Benteng Uwuren Amurang.
Hari pertempuran terus berkepanjangan. Pasukan Spanyol-Bolaang Mongondow tersudut
di Amurang. Titik soal, mereka harus berhadapan dengan masalah pasokan logistik dari pusat
kerajaan Bolaang Mongondow. Butuh waktu cukup lama sampai tiba di front pertempuran.
Sementara, pusat kerajaan butuh tenaga lebih untuk dijaga. Karena pasukan Mahassa terus
melakukan serangan balik hingga penetrasi jauh ke wilayah Bolaang Mongondow.
Persoalan lain, sungai Ranoyapo kian sulit diseberangi karena perahu dan rakit-rakit
yang mengangkut pasukan Mahassa sudah menumpuk di sana. Benteng Uwuren berhasil
dikepung dan pasokan logistik benar-benar tersendat.
Karena jalur logistik dari wilayah Bolaang Mongondow telah dipotong.
Pertempuran terjadi selama beberapa hari di seberang sungai Ranoyapo. Pasukan
Tompakewa, Tombulu dan Toudano atau Toulour secara bergantian maju menyerang. “Jadi
saat pasukan dari Tondano maju, pasukan Tombulu kembali, pasukan Tompakewa atau
Tontemboan berada di garis belakang menunggu giliran maju ke front. Begitu pasukan Tondano
mundur, Tompakewa maju, pasukan Tombulu sudah berada di garis belakang front, menunggu

giliran untuk maju ke medan pertempuran. Itu dilakukan terus menerus sampai pasukan
Spanyol dan Bolaang Mongondow terpukul kalah.
2.4. Perlawanan Bangsa Indonesia terhadap Penjajahan
Belanda
Monopoli perdagangan, kerja paksa, penarikan pajak, sewa tanah, dan tanam paksa
menimbulkan banyak kerugian dan membuat sengsara rakyat Indonesia. Rakyat Indonesia
tidak tahan lagi. Rakyat Indonesia melakukan perlawanan memperjuangkan martabat dan
kemerdekaannya. Dari seluruh penjuru tanah air timbul perlawanan terhadap penjajah Belanda.
16. 2.4.1 Perlawanan terhadap VOC
Pada tahun 1605, VOC berhasil merebut Maluku dari Portugis. Sikap sewenangwenang
Belanda dan upayanya untuk memaksakan monopoli perdagangan kepada rakyat,
menimbulkan perlawanan rakyat di berbagai tempat di Maluku, antara lain perlawanan Kakiali
(1635) dari Hitu, Ambon. Kakiali dibunuh oleh seorang penghianat pada tahun 1639, setelah
VOC menjanjikan hadiah bagi yang dapat membunuhnya. Perlawanan mereda setelah Kaikali
tewas. Namun kemudian berturut-turut timbul Perlawanan Telukabesi (1646), Perlawanan Kaicil
Saidi (1650), dan Perlawanan Rakyat Jailolo (1675).
Gambar 3.4. Perlawanan Kakiali
Saat dipimpin Sultan Agung Hanyokrokusumo (1613- 1645), Kerajaan Mataram di Jawa
Tengah mencapai puncak kejayaan. Sultan Agung bercita-cita ingin menyatukan seluruh Pulau
Jawa di bawah kekuasaan Mataram. Alasan Sultan Agung menentang VOC karena VOC
dianggap merintangi cita-cita Sultan Agung untuk mempersatukan Jawa. Selain itu VOC sering
mengganggu perdagangan Mataram dengan Malaka.
Pada tahun 1628, pasukan Mataram menyerang Batavia dengan dipimpin Tumenggung
Bahurekso, namun gagal. Serangan berikutnya pada tahun 1629 yang dipimpin Adipati Ukur
juga mengalami kegagalan. Saat itu perbekalan yang sudah disiapkan di berbagai tempat di
pantai utara Jawa dibakar oleh VOC. Pasukan Mataram yang menderita kelaparan ditarik
mundur. Namun kegagalan yang kedua kalinya ini tak membuat pasukan Mataram menyerah.
Mereka masih sering mengganggu kapal-kapal VOC di Laut Jawa. Sampai akhir hayat Sultan

Agung, yaitu tahun 1645, baik VOC maupun Mataram tidak mampu saling mengalahkan satu
dengan yang lain (Sugeng, 2015).
Trunojoyo adalah salah seorang putra Bupati di Madura yang tidak senang terhadap
Amangkurat I (putra Sultan Agung) yang menjalin hubungan erat dengan VOC. Trunojoyo
memimpin perlawanan rakyat yang sudah tak tahan lagi dengan penindasan Amangkurat I.
Setelah berhasil mendesak pasukan Belanda dan Mataram, pasukan Trunojoyo dapat
menduduki ibukota Kerajaan Mataram. Amangkurat I yang meninggalkan istana untuk meminta
bantuan VOC, meninggal di perjalanan, yaitu di Tegalarum. Usaha untuk minta bantuan VOC
diteruskan putranya, yaitu Amangkurat II.
Pada tahun 1679, pasukan VOC berhasil mematahkan perlawanan Trunojoyo dan
menangkapnya. Trunojoyo diserahkan ke Amangkurat II dan dijatuhi hukuman mati. Hutang
budi Sunan Amangkurat II kepada VOC harus dibayar dengan perjanjian yang sangat
merugikan Mataram. Daerah Kerawang, sebagian Priangan, dan Semarang diserahkan
kepada VOC.
Untung Suropati adalah mantan budak seorang pegawai VOC yang kemudian berbalik
memusuhi VOC, karena kecintaannya terhadap tanah air dan bangsa pribumi. Perlakuan VOC
yang semena-mena terhadap rakyat menyulut perlawanan Untung Suropati dengan dibantu
oleh raja Mataram, Amangkurat III (Sunan Mas) yang saat itu mulai merasakan beratnya
menjalani perjanjian dengan VOC. Untung Suropati dalam sebuah pertempuran di Kartasura,
berhasil mengalahkan pasukan VOC dan membunuh Kapten Tack, pemimpin pasukan VOC.
Tahun 1705, Belanda mengangkat Sunan Paku Buwono I (Pangeran Puger) sebagai
raja Mataram. Tahun 1706, pasukan VOC dan Mataram berhasil mematahkan perlawanan
Untung Suropati. Sunan Pakubuwono I membalas budi bantuan VOC dengan menyerahkan
daerah Priangan, Cirebon, dan Jawa Timur.
Kerajaan Makassar berhasil mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan
Sultan Hassanudin (1654-1669) yang mempunyai julukan Ayam Jantan dari Timur. Letak
Makassar yang sangat strategis membuat VOC ingin memaksakan monopoli perdagangannya.
Namun niat ini ditolak oleh Sultan Hassanudin. VOC yang mengalami kesulitan menundukkan
Makassar kemudian menghasut Sultan Bone, Aru Palaka untuk bersekutu melawan
Hassanudin.
Walaupun bertahan mati-matian, akhirnya Makassar jatuh ke tangan VOC dalam
pertempuran yang dibantu Aru Palaka. Sultan Hassanudin terpaksa menyerah dan
menandatangani Perjanjian Bongaya pada tahun 1667. Isi perjanjian ini sangat merugikan
Makassar, karena harus melepaskan sejumlah daerah kekuasaannya yang strategis dan harus
mengakui monopoli perdagangan oleh VOC. Sehingga harus kehilangan kendali pemerintahan
dan perdagangan di wilayah kekuasaannya.
Pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1650-1682), Kerajaan Banten
mengalami puncak kejayaan. Pertentangan antara Banten dan VOC berasal dari niat VOC yang
ingin menguasai Selat Sunda yang merupakan salah satu jalur utama dalam perdagangan. Selat
Sunda merupakan daerah perdagangan Banten yang sangat penting. Tentu saja Banten
menentang keras keinginan VOC tersebut. Untuk menghadapi VOC, Sultan Ageng Tirtayasa
rajin menjalin hubungan dengan negara-negara lain sehingga VOC merasa kesulitan untuk

menundukkanya. Hubungan Banten dengan negara lain, di antaranya adalah dengan Sultan
Sibori dari Ternate, Sultan Turki, dan Raja Inggris.
Untuk mematahkan perlawanan gigih Sultan Ageng Tirtayasa, VOC berusaha mencari
kelemahannya dan melakukan adu domba. Sultan Haji (putra mahkota) berhasil dipengaruhi
untuk merebut tahta ayahnya dengan bantuan VOC. Dalam pertempuran yang dahsyat, benteng
pertahanan Sultan Ageng Tirtayasa jatuh. Sultan Ageng Tirtayasa berhasil meloloskan diri
bersama Pangeran Purbaya dan melanjutkan perlawanan dengan cara perang gerilya. Tahun
1683, Sultan Ageng Tirtayasa tertangkap dan dibawa ke Batavia. Selanjutnya beliau
dipenjarakan sampai wafat. Sultan Haji yang kemudian diangkat menjadi sultan dipaksa
menandatangani perjanjian penyerahan kekuasaan daerahnya kepada VOC. Dengan jatuhnya
Banten ke tangan VOC, maka perdagangan menjadi mundur. Pelabuhan tertutup bagi orang
asing selain VOC dan roda ekonomi macet sehingga semakin membuat rakyat menderita
(Sugeng, 2015)
Gambar 3.5. Pelabuhan Banten Abad 18
Jatuhnya kekuasaan VOC pada 31 Desember 1799 membawa dampak yang cukup
signifikan bagi Indonesia. Hal ini disebabkan perubahan struktur pemerintahannya yang secara
seketika menjadi negara jajahan kolonial Belanda. Akan tetapi perubahan model pemerintahan
ini tidak serta merta membawa tanggung jawab baru bagi Indonesia. Hal ini disebabkan VOC
meninggalkan utang sejumlah 134 juta gulden (Vlekke, 2010: 268) serta beberapa asetnya di
Batavia, Priangan, Pantura, Ujung Timur, Madura, Palembang, Padang, Pontianak, Minahasa,
Malaka, Maluku, dan wilayah lain di luar Indonesia.
Implikasi panjang dari “warisan” VOC tersebut adalah keharusan merumuskan kebijakan
kolonial dan membawa administrasi kolonial yang sejalan dengan prinsip-prinsip sebagaimana
diterapkan di negeri Belanda.
Kalau kepentingan-kepentingan Belanda pada masa VOC terbatas pada kepentingan
perdagangan, maka dalam periode ini Belanda mulai mengutamakan kepentingan politik.
Belanda merebut supremasi perdagangan dari orang-orang Portugis, teristimewa perdagangan
monopoli rempah-rempah. Keinginan akan monopoli mendorong pemerintah kolonial
melakukan penaklukan-penaklukan untuk merebut perdagangan rempah-rempah. Tujuan utama
mengkonsentrasi perdagangan rempah-rempah itu lambat laun bergeser menjadi
mengembangkan perkebunan perkebunan besar yang hasilnya sangat laku di pasaran Eropa,
seperti kopi, teh, gula, lada dan lain-lain.

Sistem eksploitasi dan monopoli tetap dipertahankan sewaktu pemerintah Belanda
mengambil alih administrasi VOC. Sampai pertengahan abad ke-19 pemerintah kolonial
Belanda memang masih menganggap perdagangan sebagai kepentingan fundamental,
sedangkan kepentingan politik dan militer dianggap kurang esensial. Eksploitasi dan monopoli
Belanda menimbulkan penderitaan dan kehinaan bangsa Indonesia di berbagai daerah. Oleh
karena itulah kemudian muncul perlawanan-perlawanan terhadap kesewenang-wenangan
kolonial Belanda.
17. 2.4.2 Perlawanan Pattimura (1817)
Belanda melakukan monopoli perdagangan dan memaksa rakyat Maluku menjual hasil rempahrempah hanya kepada Belanda, menentukan harga rempah-rempah secara semena-mena,
melakukan
pelayaran hongi, dan menebangi tanaman rempahrempah milik rakyat. Rakyat
Maluku berontak atas perlakuan Belanda.
Gambar 3.6. Pattimura
Secara umum penyebab terjadinya perlawanan rakyat Maluku ini adalah karena adanya
beberapa prahara seperti penduduk wajib kerja paksa untuk kepentingan Belanda misalnya di
perkebunan-perkebunan dan membuat garam, penyerahan wajib berupa ikan asin, dendeng dan
kopi, banyak guru dan pegawai pemerintah diberhentikan dan sekolah hanya dibuka di kota-kota
besar saja, jumlah pendeta dikurangi sehingga kegaitan menjalankan ibadah menjadi terhalang.
Secara khusus yang menyebabkan kemarahan rakyat adalah penolakan Residen Van den Berg
terhadap tuntutan rakyat untuk membayar harga perahu yang dipisah sesuai dengan harga
sebenarnya.
Dipimpin oleh Thomas Matulessi yang nantinya terkenal dengan nama Kapten Pattimura,
rakyat Maluku melakukan perlawanan pada tahun 1817.
Pattimura dibantu oleh Anthony Ribok, Philip Latumahina, Ulupaha, Paulus Tiahahu, dan
seorang pejuang wanita Christina Martha Tiahahu. Perang melawan Belanda meluas ke
berbagai daerah di Maluku, seperti Ambon, Seram, Hitu, dan lain-lain.
Belanda mengirim pasukan besarbesaran. Pasukan Pattimura terdesak dan bertahan di
dalam benteng. Akhirnya, Pattimura dan kawan-kawannya tertawan. Pada tanggal 16 Desember
1817, Pattimura dihukum gantung di depan Benteng Victoria di Ambon.

Pada tahun 1817 rakyat Saparua mengadakan pertemuan dan menyepakati untuk
memilih Thomas Matulessy (Kapitan Pattimura) untuk memimpin perlawanan. Keesokan harinya
mereka berhasil merebut benteng Duurstede di Saparua sehingga residen Van den Berg tewas.
Selain Pattimura tokoh lainnya adalah Paulus Tiahahu dan puterinya Christina Martha Tiahahu.
Anthoni Reoak, Phillip Lattumahina, Said Perintah dan lain-lain. Perlawanan juga berkobar di
pulau-pulau lain yaitu Hitu, Nusalaut dan Haruku penduduk berusaha merebut benteng
Zeeeland.
Untuk merebut kembali benteng Duurstede, pasukan Belanda didatangkan dari Ambon
dibawah pimpinan Mayor Beetjes namun pendaratannya digagalkan oleh penduduk dan Mayor
Beetjes tewas. Pada bulan Nopember 1817 Belanda mengerahkan tentara besar-besaran dan
melakukan sergapan pada malam hari Pattimura dan kawan-kawannya tertangkap. Mereka
menjalani hukuman gantung pada bulan Desember 1817 di Ambon. Paulus Tiahahu tertangkap
dan menjalani hukuman gantung di Nusalaut. Christina Martha Tiahahu dibuang ke pulau Jawa.
Selama perjalanan ia tutup mulut dan mogok makan yang menyebabkan sakit dan meninggal
dunia dalam pelayaran pada awal Januari tahun 1818.
Sejak Belanda berkuasa di Maluku rakyat menjadi sengsara, sehingga rakyat semakin
benci, dendam kepada Belanda. Dibawah pimpinan Pattimura (Thomas Matualessi) rakyat
Maluku bangkit melawan Belanda tahun 1817 dan berhasil menduduki Benteng Duursted dan
membunuh Residen Van Den Berg. Belanda kemudian minta bantuan ke Batavia, sehingga
perlawanan Pattimura dapat dipatahkan, Pattimura kemudian ditangkap dan dijatuhi hukuman
gantung bulan Desember 1817. Dalam perjuangan rakyat Maluku ini juga terdapat seorang
pejuang wanita yang bernama Christina Martha Tiahahu.
18. 2.4.3 Perang Padri (1821-1837)
Dilatarbelakangi oleh perselisihan antara kaum adat dan kaum Padri di Minangkabau.
Kaum Pedri sendiri merupakan sekolompok ulama yang baru kembali dari Timur Tengah dan
kembali untuk memurnikan ajaran Islam di daerah Minangkabau. Peran ini didasari oleh konflik
antara kaum adat dan kaum padri mengenai masalah penerapan syariat di Tanah Minang.
Kaum Padri berusaha untuk menghilangkan unsur adat karena tidak sesuai dengan ajaran
Islam. Unsur Adat tersebut antara lain kebiasaan seperti perjudian, penyabungan ayam,
penggunaan madat, minuman keras, tembakau, sirih, dan juga aspek hukum adat matriarkat
mengenai warisan, serta longgarnya pelaksanaan kewajiban ritual formal agama Islam. Kaum
Padri ini sendiri yang melakukan hal tersebut merupakan suatu aliran dalam Islam. Kaum Padri
sendiri beraliran Islam Wahabi (Fundamentalis).

Gambar 3.7. Ilustrasi Perang Paderi
Terjadilah bentrokan- bentrokan antara keduanya. Karena terdesak, kaum adat minta bantuan
kepada Belanda. Belanda bersedia membantu kaum adat dengan imbalan sebagian wilayah
Minangkabau. Pasukan Padri dipimpin oleh Datuk Bandaro. Setelah beliau wafat diganti oleh
Tuanku Imam Bonjol. Pasukan Padri dengan taktik perang gerilya, berhasil mengacaukan
pasukan Belanda. Karena kewalahan, Belanda mengajak berunding.
Tanggal 22 Januari 1824 diadakan perjanjian Mosang dengan kaum Padri, namun
kemudian dilanggar oleh Belanda. Pada April 1824 Raaf meninggal digantikan oleh Kolonel De
Stuers. Dia membangun Benteng Fort De Kock, di Bukit Tinggi. Tanggal 15 November 1825
diadakan perjanjian Padang. Kaum Padri diwakili oleh Tuanku Nan Renceh dan Tuanku
Pasaman. Seorang Arab, Said Salimuljafrid bertindak sebagai perantara. Pada hakikatnya
berulang-ulang Belanda mengadakan perjanjian itu dilatarbelakangi kekuatannya yang tidak
mampu menghadapi serangan kaum Padri, di samping itu bantuan dari Jawa tidak dapat
diharapkan, karena di Jawa sedang pecah Perang Diponegoro.
Tahun 1829 daerah kekuasaan kaum Padri telah meluas sampai ke Batak Mandailing,
Tapanuli. Di Natal, Tapanuli Baginda Marah Husein minta bantuan kepada kaum Padri
mengusir Gubernur Belanda di sana. Maka setelah selesai perang Diponegoro, Natal di bawah
pimpinan Tuanku Nan Cerdik dapat mempertahankan serangan Belanda di sana. Tahun 1829
De Stuers digantikan oleh Letnan Kolonel Elout, yang datang di Padang Maret 1931. Dengan
bantuan
Mayor Michiels, Natal dapat direbut, sehingga Tuanku Nan Cerdik menyingkir ke Bonjol.
Sejak itu kampung demi kampung dapat direbut Belanda. Tahun 1932 datang bantuan dari
Jawa, di bawah Sentot Prawirodirjo. Dengan cepat Lintau, Bukit, Komang, Bonjol, dan hampir
seluruh daerah Agam dapat dikuasai oleh Belanda. Melihat kenyataan ini baik kaum Adat
maupun kaum Padri menyadari arti pentingnya pertahanan. Maka bersatulah mereka bersamasama menghadapi penjajah Belanda.

Gambar 3.8. Imam Bonjol
Setelah daerah-daerah sekitar Bonjol dapat dikuasai oleh Belanda, serangan ditujukan
langsung ke benteng Bonjol. Membaca situasi yang gawat ini, Tuanku Imam Bonjol
menyatakan bersedia untuk berdamai. Belanda mengharapkan, bahwa perdamaian ini disertai
dengan penyerahan. Tetapi Imam Bonjol berpendirian lain. Perundingan perdamaian ini adalah
siasat mengulur waktu, agar dapat mengatur pertahanan lebih baik, yaitu membuat lubang
yang menghubungkan pertahanan dalam benteng dengan luar benteng, di samping untuk
mengetahui kekuatan musuh di luar benteng. Kegagalan perundingan ini menyebabkan
berkobarnya kembali pertempuran pada tanggal 12 Agustus 1837.
Belanda memerlukan waktu dua bulan untuk dapat menduduki benteng
Bonjol, yang didahului dengan pertempuran yang sengit. Meriam-meriam Benteng Bonjol
tidak banyak menolong, karena musuh berada dalam jarak dekat. Perkelahian satu lawan
satu tidak dapat dihindarkan lagi. Korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Pasukan Padri
terdesak dan benteng Bonjol dapat dimasuki oleh pasukan Belanda menyebabkan Tuanku
Imam Bonjol beserta sisa pasukannya menyerah pada tanggal 25 Oktober 1937. Walaupun
Tuanku Imam Bonjol telah menyerah tidak berarti perlawanan kaum Padri telah dapat
dipadamkan. Perlawanan masih terus berlangsung dipimpin oleh Tuanku Tambusi pada tahun
1838. Setelah itu berakhirlah perang Padri dan daerah Minangkabau dikuasai oleh Belanda.
19. 2.4.4 Perang Diponegoro (1925-1830)
Perang Diponegoro atau bisa disebut juga Perang Jawa merupakan perang besar yang pernah
terjadi di Nusantara antara penjajah Belanda dan pasukan yang dipimpin oleh Pangeran
Diponegoro. Belanda menyebut perang ini sebagai Perang Jawa karena terjadi di Tanah Jawa,
khususnya Yogyakarta. Sedangkan, di Indonesia kita lebih akrab dengan sebutan Perang
Diponegoro, karena Diponegoro merupakan tokoh sentral dalam perang ini.
Gambar. 3.9. Ilustrasi Pangeran Diponegoro

Perang Diponegoro yang terjadi selama lima tahun (1825-1830) telah menelan korban tewas di
pihak tentara Belanda sebanyak 15.000 orang (8.000 orang tentara Eropa dan 7.000 orang
pribumi), sedangkan di pihak Diponegoro sedikitnya 200.000 orang tewas. Selain melawan
Belanda, perang ini juga merupakan perang (sesama) saudara antara orang-orang keraton
yang berpihak pada Diponegoro dan yang anti-Diponegoro (antek Belanda).
Perang Diponegoro berawal dari kekecewaan Pangeran Diponegoro atas campur
tangan Belanda terhadap istana dan tanah tumpah darahnya. Kekecewaan itu memuncak
ketika Patih Danureja atas perintah Belanda memasang tonggak-tonggak untuk membuat rel
kereta api melewati makam leluhurnya. Dipimpin Pangeran Diponegoro, rakyat Tegalrejo
menyatakan perang melawan Belanda tanggal 20 Juli 1825. Diponegoro dibantu oleh
Pangeran Mangkubumi sebagai penasehat, Pangeran Ngabehi Jayakusuma sebagai
panglima, dan Sentot Ali Basyah Prawiradirja sebagai panglima perang.
Pangeran Diponegoro menyusun barisan dengan nama Perlawanan Rakyat terhadap
penjajah. Dalam barisan ini, perlawanan difokuskan pada gerakan rakyat agar perjuangannya
bersifat meluas dan lama. Bentuk perlawanan ini dipilih Diponegoro untuk menghindari
tuduhan Belanda bahwa ia hanya ingin merebut kekuasaan, meski akhirnya tuduhan tersebut
tetap dilanyangkan kepadanya.
Dalam perjuangan tersebut, Diponegoro menggunakan langkah jitu. Yakni dengan
menyerukan kepada rakyat Mataram untuk berjuang bersama-sama dalam menentang Koloni
yang dengan jelas menindas rakyat. Seruan kemudian disebarluaskan di seluruh tanah
Mataram, khususnya di Jawa Tengah dan mendapat sambutan hampir sebagian besar
lapisan masyarakat. Akhirnya, daerah Selarong penuh sesak karena dipenuhi oleh pasukan
rakyat. Perang untuk menentang penguasa kolonial Belanda meledak dan membakar hampir
seluruh tanah Mataram, bahkan sampai ke Jawa Timur dan Jawa Barat.
Akhirnya, peperangan pun tidak dapat dihindarkan. Pasukan belanda kewalahan
menghadapi pasukan Diponegoro selama bertahun-tahun lamanya. Dalam beberapa
pertempuran, pasukan Belanda selalu kalah. Hal ini membuat pasukan Belanda dari Madura
dan daerah-daerah lain berdatangan untuk membantu pasukan di Yogyakarta yang sedang
terserang. Akibatnya, pasukan Diponegoro banyak yang menderita kekalahan dan gugur di
medan perang. Pangeran Diponegoro juga didukung oleh para ulama dan bangsawan.
Daerahdaerah lain di Jawa ikut berjuang melawan Belanda. Kyai Mojo dari Surakarta
mengobarkan
Perang Sabil. Antara tahun 1825-1826 pasukan Diponegoro mampu mendesak
pasukan Belanda..
Dalam menangani perlawanan Diponegoro tersebut, lagi-lagi Belanda menggunakan
siasat yang licik. Pada tahun 1827, Belanda mendatangkan bantuan dari Sumatra dan
Sulawesi. Jenderal De Kock menerapkan taktik perang
benteng stelsel. Taktik ini berhasil
mempersempit ruang gerak pasukan Diponegoro. Banyak pemimpin pasukan Pangeran
Diponegoro gugur dan tertangkap. Namun demikian, pasukan Diponegoro tetap gigih.
Akhirnya, Belanda mengajak berunding. Dalam perundingan yang diadakan tanggal 28 Maret
1830 di Magelang, Diponegoro disergap. Pada posisi tidak siap perang, pangeran Diponegoro
serta pengawalnya dengan mudahnya di sergap, dilucuti dan dimasukkan ke dalam
kendaraan khusus residen. Kendaraan ini sudah terlebih dahulu disiapkan oleh pihak

Belanda. Dengan pengawalan yang ketat, pasukan Belanda kemudian membawa pangeran
Diponegoro menuju Ungaran.
Diponegoro kemudian akan dibawa ke Batavia, sebelum itu dia dibawa terlebih dahulu
ke kota Semarang. Tepat pada tanggal 3 Mei tahun 1830, pangeran Diponegoro dan stafnya
dibawa ke daerah pembuangan, yaitu di Menado. Pangeran Diponegoro beserta 19 orang
termasuk keluarga dan stafnya juga ikut dibuang. Kemudian pada tahun 1834 pangeran
Diponegoro dan yang lainnya berpindah ke daerah pembuangan lain, yaitu Makassar. Setelah
menjalani masa tawanan selama 25 tahun, Pangeran Diponegoro kemudian meninggal pada
tanggal 8 Januari tahun 1855 tepatnya saat berusia 70 tahun.
20. 2.4.5 Perlawanan Rakyat Banjarmasin (1859-1863)
Perang Banjar diawali dari perebutan takhta yang terjadi di dalam keluarga Kesultanan
Banjar. Sultan Adam yang meninggal pada 1857 mewariskan takhta kepada Pangeran
Hidayat. Namun, Belanda di bawah Gubernur Jenderal Rochussen ikut campur menentukan
pewaris takhta tersebut. Sultan Adam cenderung untuk memilih Pangeran Hidayatullah.
Alasannya memiliki perangai yang baik, taat beragama, luas pengetahuan, dan disukai rakyat.
Sebaliknya Pangeran Tamjid kelakuannya kurang terpuji, kurang taat beragama dan bergaya
hidup kebarat-baratan meniru orang Belanda. Pangeran Tamjid inilah yang dekat dengan
Belanda dan dijagokan oleh Belanda. Belanda menekan Sultan Adam dan mengancam
supaya mengangkat Pangeran Tamjid.
Belanda menginginkan Pangeran Tamjid Ullah menjadi sultan karena Belanda
mengharapkan izinnya untuk menguasai daerah pertambangan batu bara yang berada di
wilayah kekuasaan Pangeran Tamjid Ullah. Belanda kemudian mengangkat Pangeran Tamjid
Ullah sebagai sultan dan Pangeran Hidayat diangkat sebagai mangkubumi (Nurhadi, dkk :
2009). Oleh karena itu, timbullah keresahan dan pemberontakan di kalangan rakyat daerah
pedalaman karena rakyat menghendaki Pangeran Hidayat yang menjadi sultan. Pada
akhirnya, kekuasaan di Kasultanan Banjar diambil alih pemerintah Belanda, setelah
menurunkan Pangeran Tamjid Ullah dari takhta kesultanan.
Cucu Sultan Adam Al Wasikbillah ada 2 orang, yaitu:
a. Pangeran Hidayatullah, putra Sultan Muda Abdurrakhman dengan permaisuri putri
keraton Ratu Siti, Putri dari Pangeran Mangkubumi Nata.
b. Pangeran Tamjid adalah putra Abdurrakhman dengan istri wanita biasa keturunan China
yang bernama Nyai Aminah.
Latar Belakang Terjadinya Perlawanan Rakyat Banjar
a. Belanda memaksakan monopoli perdagangan di Kerajaan Banjar. Dalam monopoli
perdagangan lada, rotan, damar, dan hasil-hasil tambang seperti emas dan intan,
Belanda bersaing dengan saudagar-saudagar Banjar dan para bangsawan Banjar.
Dari persaingan menjadi permusuhan karena Belanda berusaha menguasai beberapa
wilayah Kerajaan Banjar.
b. Pemerintah kolonial Belanda ikut mencampuri urusan dalam Kraton terutama
dalam pergantian sultan-sultan kerajaan Banjar. Misalnya Belanda mengangkat

Pangeran Tamjidillah menjadi sultan pada tahun 1857. Hak Pangeran Hidayat
menjadi sultan disisihkan. Padahal yang berhak menjadi sultan yang sebenarnya
adalah Pangeran Hidayat sendiri.
c. Pemerintah kolonial Belanda mengumumkan bahwa Kasultanan
Banjarmasin akan dihapuskan.
Jalannya Perlawanan Rakyat Banjar dan Pangeran Antasari
Kendatipun Pangeran Hidayat tidak menjadi Sultan Kerajaan Banjar, tetapi ia telah
mempunyai kedudukan sebagai Mangkubumi. Pengaruhnya cukup besar di kalangan
rakyatnya. Campur tangan Belanda di kraton makin besar dan kedudukan Pangeran Hidayat
sebagai Mangkubumi makin terdesak. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk mengadakan
perlawanan bersama sepupunya Pangeran Antasari. Di mana-mana timbul suara
ketidakpuasan masyarakat terhadap Sultan Tamjidillah II (gelar Sultan Tamjid setelah naik
tahta) dan kebencian rakyat terhadap Belanda. Kebencian rakyat lama-lama berubah
menjadi bentuk perlawanan yang terjadi di mana-mana. Perlawanan tersebut dipimpin oleh
seorang figur yang didambakan rakyat, yaitu Pangeran Antasari.
Gambar 3.10. Pangeran Antasari
Pangeran Antasari, seorang bangsawan yang sudah lama hidup di kalangan rakyat yang
berusaha mempersatukan kaum pemberontak. Pada April 1859, pasukan Pangeran
Antasari menyerang pos Belanda di Martapura dan Pengaron. Pada Maret 1860, bertepatan
dengan bulan suci Ramadhan 1278 Hijriah, para alim ulama dan para pemimpin rakyat
menobatkan Pangeran Antasari menjadi Panembahan Amirudin Kalifatul Mukminin, atau
pemimpin tertinggi agama. Pangeran Antasari seorang pemimpin perlawanan yang amat
anti Belanda. Ia bersama pengikutnya, Kyai Demang Leman, Haji Nasrun, Haji Buyasin dan
Haji Langlang, berhasil menghimpun kekuatan sebanyak 3000 orang. Ia bersama
pasukannya menyerang pos-pos Belanda di Martapura dan Pengaron pada tanggal 28 April
1859. Pertempuran heat terjadi di salah satu pusat kekuatan Pangeran Antasari, yaitu
Benteng Gunung Lawak. Belanda berhasil menduduki Benteng Gunung Lawak (27
September 1859).
Niat Belanda yang sebenarnya adalah menghapuskan Kerajaan Banjar. Hal
ini baru terlaksana setelah Kolonel Andresen dapat menurunkan Sultan Tamjidillah, yang
dianggapnya sebagai penyebab kericuhan, sedangkan Pangeran Hidayat sebagai

Mangkubumi telah meninggalkan kraton. Belanda menghapuskan kerajaan Banjar pada
tanggal 11 Juni 1860 dan dimasukkan ke dalam kekuasaan Belanda. Pangeran Hidayat
terlibat dalam pertempuran yang hebat melawan Belanda pada tanggal 16 Juni 1860 di
Anbawang. Adanya ketidakseimbangan dalam persenjataan dan pasukan yang kurang
terlatih, menyebabkan Pangeran Hidayat harus mengundurkan diri. Belanda menggunakan
siasat memberikan kedudukan dan jaminan hidup kepada setiap orang yang bersedia
menghentikan perlawanan dengan menyerahkan diri kepada Belanda. Ternyata siasat ini
berhasil, yaitu dengan menyerahkan Kyai Demang Leman pada tanggal 2 Oktober 1861.
Akhir Perlawanan Rakyat Banjar
Penyerahan Kyai Demang Leman mempengaruhi kekuatan pasukan
Pangeran Antasari. Beberapa bulan kemudian Pangeran Hidayat dapat ditangkap, akhirnya
diasingkan ke Jawa pada tanggal 3 Februari 1862. Rakyat Banjar memberikan kepercayaan
sepenuhnya kepada Pangeran Antasari dengan mengangkatnya sebagai pemimpin tertinggi
agama dengan gelar Panembahan Amirudin Khalifatul Mukminin pada tanggal 14 Maret
1862. Perlawanan diteruskan bersama-sama pemimpin yang lain, seperti Pangeran
Miradipa, Tumenggung Mancanegara, Tumenggung Surapati dan Gusti Umar. Pertahanan
pasukan Pangeran Antasari ditempatkan di Hulu Teweh. Pada akhir 1860, kedudukan
pasukan Pangeran Antasari semakin terjepit dan melakukan perang gerilya. Ketika wabah
penyakit melanda daerah pedalaman, di di Kampung Bayam Bengkok inilah Pangeran
Antasari meninggal dunia pada tanggal 11 Oktober
1862. Akan tetapi, perlawan an terhadap Belanda tetap dilanjutkan oleh putranya Pangeran
Muhammad Seman dan adiknya, Muhammad Said. Perjuangan dilanjutkan oleh putrinya
yang bernama Sulaiha. Perlawanan rakyat Banjar terus berlangsung dipimpin oleh putera
Pangeran Antasari, Pangeran Muhamad Seman bersama pejuang-pejuang Banjar lainnya.
21. 2.4.6 Perang Bali (1846-1868)
Perang Bali dilakukan untuk mengusir Belanda dari daerahnya dikenal dengan Perang
Puputan
. Perang puputan ditandai dengan pengorbanan yang luar biasa dari seluruh rakyat
yang cinta daerahnya, baik pengorbanan nyawa maupun materi. Perang Puputan dilakukan
olah rakyat Bali demi mempertahankan daerah mereka dari pendudukan pemerintah
kolonial Belanda. Rakyat Bali tidak ingin Kerajaan Klungkung yang telah berdiri sejak abad
ke-9 dan telah mengadakan perjanjian dengan Belanda tahun 1841 di bawah pemerintahan
Raja Dewa Agung Putra diduduki oleh Belanda. Sikap pantang menyerah rakyat Bali
dijadikan alasan oleh pemerintah Belanda untuk menyerang Bali. Tokoh perang Bali adalah
raja kerajaan buleleng I Gusti Made Karangasem dan patihnya I Gusti Ketut Jelantik
sebagai pimpinan rakyat Buleleng.
Pada abad ke-19, di Bali terdapat banyak kerajaan, yang masing-masing mempunyai
kekuasaan tersendiri. Kerajaan-kerajaan tersebut antara lain Buleleng, Karangasem,
Klungkung, Gianyar, Bandung, Tabanan, Mengwi, Bangli, dan Jembrana. Di antara
kerajaan-kerajaan tersebut yang gencar mengadakan perlawanan terhadap Belanda adalah

Buleleng dan Bandung. Rajaraja di Bali terikat dengan perjanjian yang disebut Hak Tawan
Karang, yaitu hak suatu negara untuk mengakui dan memiliki kapal-kapal yang terdampar di
wilayahnya. Hak Tawan Karang inilah yang memicu peperangan dengan Belanda. Pada
1844, perahu dagang milik Belanda terdampar di Prancak, wilayah Kerajaan Buleleng dan
terkena Hukum Tawan Karang. Hukum tersebut memberi hak kepada penguasa kerajaan
untuk menguasai kapal yang terdampar beserta isinya. Dengan kejadian itu, Belanda
memiliki alasan kuat untuk melakukan serangan ke Kerajaan Buleleng pada 1848. Namun,
rakyat Buleleng dapat menangkis serangan tersebut. Akan tetapi, pada serangan yang
kedua pada 1849, pasukan Belanda yang dipimpin Jenderal Mayor A.V. Michies dan Van
Swieeten berhasil merebut benteng pertahanan terakhir Kerajaan Buleleng di Jagaraga.
Dengan serangan besar-besaran, rakyat Bali membalasnya dengan perang habishabisan
guna mempertahankan harga diri sebagai orang Bali. Pertempuran untuk mempertahankan
Buleleng itu dikenal dengan Puputan Jagaraga. Puputan lainnya, yaitu Puputan Badung
(1906), Puputan Kusamba (1908), dan Puputan Klungkung (1908).
Pada sekitar abad 18, para penguasa Bali menerapkan hak tawan karang, yaitu hak
yang menyatakan bahwa kerajaan-kerajaan Bali berhak merampas dan menyita
barangbarang dan kapal-kapal yang terdampar dan kandas di wilayah perairan Pulau Bali.
Latar Belakang Terjadinya Perlawanan Rakyat Bali
a. Pemerintah kolonial Belanda ingin menguasai Bali. Yaitu berusaha untuk meluaskan
daerah kekuasaannya. Perjanjian antara pemerintah kolonial Belanda dengan rajaraja Klungkung, Bandung, dan Buleleng dinyatakan bahwa raja-raja Bali mengakui
bahwa kerajaannya berada di bawah kekuasaan negara Belanda. Raja memberi izin
pengibaran bendera Belanda di daerahnya.
b. Pemerintah kolonial Belanda ingin menghapuskan hak Tawan Karang yang sudah
menjadi tradisi rakyat Bali. Hak Tawan Karang adalah hak raja Bali untuk merampas
perahu yang terdampar di pantai wilayah kekuasaannya.
Pada tahun 1844, di pantai Prancak dan pantai Sangsit (pantai di Buleleng bagian
timur) terjadi perampasan kapal-kapal Belanda yang terdampar di pantai tersebut. Timbul
percekcokan antara Buleleng dengan Belanda. Belanda menuntut agar Kerajaan Buleleng
melaksanakan perjanjian 1843, yakni melepaskan hak Tawan Karang. Tuntutan Belanda
tidak diindahkan oleh Raja Buleleng I Gusti Ngurah Made Karangasem. Belanda
menggunakan dalih kejadian ini dan menyerang Kerajaan Buleleng. Pantai Buleleng
diblokade dan istana raja ditembaki dengan meriam dari pantai. Belanda mendaratkan
pasukannya di pantai Buleleng. Perlawanan sengit dari pihak Kerajaan. Buleleng dapat
menghambat majunya laskar Belanda. Korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Akhirnya
Belanda berhasil menduduki satu-persatu daerah-daerah sekitar istana raja (Banjar Bali,
Banjar Jawa, Banjar Penataran, Banjar Delodpeken, Istana raja telah terkurung rapat). I
Gusti Made Karangasem menghadapi situasi ini kemudian mengambil siasat pura-pura
menyerah dan tunduk kepada Belanda.

Raja Buleleng (Bali) beserta penulisnya. Dalam rangka perlawanan terhadap Belanda,
raja-raja Bali melancarkan hukum adat hak tawan karang. Dan dalam perang
melancarkan semangat puputan.
I Gusti Ketut Jelantik, patih kerajaan Buleleng melanjutkan perlawanan. Pusat
perlawanan ditempatkannya di wilayah Buleleng Timur, yakni di sebuah desa yang
bernama desa Jagaraga. Secara geografis desa ini berada pada tempat ketinggian, di
lereng sebuah perbukitan dengan jurang di kanan kirinya. Desa
Jagaraga sangat strategis untuk pertahanan dengan benteng berbentuk ”supit urang”.
Benteng dikelilingi parit dengan ranjau yang dibuat dari bambu (bahasa Bali : sungga)
untuk menghambat gerakan musuh. Benteng Jagaraga diserang oleh Belanda, namun
gagal karena Belanda belum mengetahui medan yang sebenarnya dan siasat pertahanan
supit urang laskar Jagaraga. I Gusti Ketut Jelantik bersama seluruh laskarnya setelah
memperoleh kemenangan, bertekad untuk mempertahankan benteng Jagaraga sampai
titik darah penghabisan demi kehormatan kerajaan Buleleng dan rakyat Bali.
Pada 1849, Belanda kembali mengirim ekspedisi militer di bawah pimpinan Mayor
Jenderal Michies. Mereka menyerang Benteng Jagaraga dan merebutnya. Belanda juga
menyerang Karang Asem. Pada 1906, Belanda menyerang Kerajaan Badung. Raja dan
rakyatnya melakukan perlawanan sampai titik darah penghabisan. Perang yang dilakukan
sampai titik darah peng habisan dikenal dengan puputan. Untuk memadamkan
perlawanan rakyat Bali yang berpusat di Jagaraga, Belanda mendatangkan pasukan
secara besarbesaran, maka setelah mengatur persiapan, mereka langsung menyerang
Benteng Jagaraga. Mereka menyerang dari dua arah, yaitu arah depan dan dari arah
belakang Benteng Jagaraga. Pertempuran sengit tak dapat dielakkan lagi, terutama pada
posisi di mana I Gusti Ketut Jelantik berada. Benteng Jagaraga dihujani tembakan
meriam dengan gencar. Korban telah berjatuhan di pihak Buleleng. Kendatipun demikian,
tidak ada seorang pun laskar Jagaraga yang mundur atau melarikan diri. Mereka
semuanya gugur dan pada tanggal 19 April 1849 Benteng Jagaraga jatuh ke tangan
Belanda. Mulai saat itulah Belanda menguasai Bali Utara.
Penyebab perang Bali adalah Belanda ingin menghapus hukum tawan karang dan
memaksa Raja-raja Bali mengakui kedaulatan Belanda di Bali. Isi hukum tawan karang
adalah kerajaan berhak merampas dan menyita barang serta kapal-kapal yang terdampar
di Pulau Bali. Raja-raja Bali menolak keinginan Belanda. Akhirnya, Belanda menyerang
Bali. Belanda melakukan tiga kali penyerangan, yaitu pada tahun 1846, 1848, dan 1849.
Rakyat Bali mempertahankan tanah air mereka. Setelah Buleleng dapat ditaklukkan,
rakyat Bali mengadakan
perang puputan, yaitu berperang sampai titik darah terakhir. Di
antaranya Perang Puputan Badung (1906), Perang Puputan Kusumba (1908), dan
Perang Puputan Klungkung (1908). Salah saut pemimpin perlawanan rakyat Bali yang
terkenal adalah Raja Buleleng dibantu oleh Gusti Ketut Jelantik.
22. 2.4.7 Perang Sisingamangaraja XII (1870-1907)
Perang Tapanuli (1878-1907) terjadi karena kebijakan Belanda di Nusantara, dan berlaku
juga di Tapanuli, membuat rakyat mengalami penderitaan yang hebat. Banyak para petani

yang kehilangan tanah dan pekerjaannya karena diberlakukannya politik liberal yang
membebaskan kepada para pengusaha Eropa untuk dapat menyewa tanah penduduk
pribumi. Dan dalam pelaksanaanya banyak penduduk pribumi yang dipaksakan untuk
menyewakan tanahnya dengan harga murah. Untuk itu Sisingamangaraja mengadakan
perlawanan terhadap Belanda.
Berikut beberapa alasan Sisingamangaraja XII mengadakan perlawanan terhadap
Belanda:
a. Pengaruh Sisingamangaraja semakin kecil.
b. Adanya Zending atau misi penyebaran agama kristen di Tapanuli dan sekitarnya
c. Belanda memperluas kekuasaannya dalam rangka Pax Netherlandica.
Sedangkan penyebab khusus perlawanan adalah kemarahan sisingamangaraja
atas penempatan pasukan Belanda di Tarutung. Sampai abad ke-18, hampir seluruh
Sumatera sudah dikuasai Belanda kecuali Aceh dan tanah Batak yang masih berada
dalam situasi merdeka dan damai di bawah pimpinan Raja Sisingamangaraja XII yang
masih muda. Rakyat bertani dan beternak, berburu dan sedikit-sedikit berdagang. Kalau
Raja
Sisingamangaraja XII mengunjungi suatu negeri semua yang “terbeang” atau
ditawan, harus dilepaskan. Sisingamangaraja XII memang terkenal anti perbudakan, anti
penindasan dan sangat menghargai kemerdekaan.
Pada tahun 1877 para misionaris di Silindung dan Bahal Batu meminta bantuan
kepada pemerintah kolonial Belanda dari ancaman diusir oleh Singamangaraja XII.
Kemudian pemerintah Belanda dan para penginjil sepakat untuk tidak hanya menyerang
markas Sisingamangaraja XII di Bangkara tetapi sekaligus menaklukkan seluruh Toba.
Pada tanggal 6 Februari 1878 pasukan Belanda sampai di Pearaja, tempat
kediaman penginjil Ingwer Ludwig Nommensen. Kemudian beserta penginjil Nommensen
dan Simoneit sebagai penerjemah pasukan Belanda terus menuju ke Bahal Batu untuk
menyusun benteng pertahanan. Namun kehadiran tentara kolonial ini telah memprovokasi
Sisingamangaraja XII, yang kemudian mengumumkan pulas (perang) pada tanggal 16
Februari 1878 dan penyerangan ke pos Belanda di Bahal Batu mulai dilakukan.
Pada tanggal 14 Maret 1878 datang Residen Boyle bersama tambahan pasukan
yang dipimpin oleh Kolonel Engels sebanyak 250 orang tentara dari Sibolga. Pada
tanggal 1 Mei 1878, Bangkara pusat pemerintahan Sisingamangaraja diserang pasukan
kolonial dan pada 3 Mei 1878 seluruh Bangkara dapat ditaklukkan namun
Singamangaraja XII beserta pengikutnya dapat menyelamatkan diri dan terpaksa keluar
mengungsi. Sementara para raja yang tertinggal di Bangkara dipaksa Belanda untuk
bersumpah setia dan kawasan tersebut dinyatakan berada dalam kedaulatan pemerintah
HindiaBelanda.
Walaupun Bangkara telah ditaklukkan, Singamangaraja XII terus melakukan
perlawanan secara gerilya, namun sampai akhir Desember 1878 beberapa kawasan
seperti Butar, Lobu Siregar, Naga Saribu, Huta Ginjang, Gurgur juga dapat ditaklukkan
oleh pasukan kolonial Belanda.

Karena lemah secara taktis, Sisingamangaraja XII menjalin hubungan dengan
pasukan Aceh dan dengan tokoh-tokoh pejuang Aceh beragama Islam untuk
meningkatkan kemampuan tempur pasukannya. Dia berangkat ke wilayah Gayo, Alas,
Singkel, dan Pidie di Aceh dan turut serta pula dalam latihan perang Keumala. Karena
Belanda selalu unggul dalam persenjataan, maka taktik perang perjuangan Batak
dilakukan secara tiba-tiba, hal ini mirip dengan taktik perang Gerilya.
Pada tahun 1888, pejuang-pejuang Batak melakukan penyerangan ke Kota Tua.
Mereka dibantu orang-orang Aceh yang datang dari Trumon. Perlawanan ini dapat
dihentikan oleh pasukan Belanda yang dipimpin oleh J. A. Visser, namun Belanda juga
menghadapi kesulitan melawan perjuangan di Aceh.
Sehingga Belanda terpaksa mengurangi kegiatan untuk melawan
Sisingamangaraja XII karena untuk menghindari berkurangnya pasukan Belanda yang
tewas dalam peperangan.
Pada tanggal 8 Agustus 1889, pasukan Sisingamangaraja XII kembali menyerang
Belanda. Seorang prajurit Belanda tewas, dan Belanda harus mundur dari Lobu Talu.
Namun Belanda mendatangkan bala bantuan dari Padang, sehingga Lobu Talu dapat
direbut kembali. Pada tanggal 4 September 1889, Huta Paong diduduki oleh Belanda.
Pasukan Batak terpaksa ditarik mundur ke Passinguran. Pasukan Belanda terus
mengejar pasukan Batak sehingga ketika tiba di Tamba, terjadi pertarungan sengit.
Pasukan Belanda ditembaki oleh pasukan Batak, dan Belanda membalasnya terus
menerus dengan peluru dan altileri, sehingga pasukan Batak mundur ke daerah Horion.
Sisingamangaraja XII dianggap selalu mengobarkan perlawanan di seluruh Sumatra
Utara. Kemudian untuk menanggulanginya, Belanda berjanji akan menobatkan
Sisingamangaraja XII menjadi Sultan Batak. Sisingamangaraja XII tegas menolak imingiming tersebut, baginya lebih baik mati daripada menghianati bangsa sendiri. Belanda
semakin geram, sehingga mendatangkan regu pencari jejak dari Afrika, untuk mencari
persembunyian Sisingamangaraja XII. Barisan pelacak ini terdiri dari orang-orang
Senegal. Oleh pasukan
Sisingamangaraja XII barisan musuh ini dijuluki “Si Gurbak Ulu Na Birong”. Tetapi
pasukan Sisingamangaraja XII pun terus bertarung. Panglima Sarbut Tampubolon
menyerang tangsi Belanda di Butar, sedang Belanda menyerbu Lintong dan berhadapan
dengan Raja Ompu Babiat Situmorang. Tetapi Sisingamangaraja XII menyerang juga ke
Lintong Nihuta, Hutaraja, Simangarongsang, Huta Paung, Parsingguran dan Pollung.
Panglima Sisingamangaraja XII yang terkenal Amandopang Manullang tertangkap.
Dan tokoh Parmalim yang menjadi Penasehat Khusus Raja Sisingamangaraja XII, Guru
Somaling Pardede juga ditawan Belanda. Ini terjadi pada tahun 1906. Tahun 1907,
pasukan Belanda yang dinamakan Kolonel Macan atau Brigade Setan mengepung
Sisingamangaraja XII. Tetapi Sisingamangaraja XII tidak bersedia menyerah. Ia
bertempur sampai titik darah penghabisan. Boru Sagala, Isteri Sisingamangaraja XII,
ditangkap pasukan Belanda. Ikut tertangkap putra-putri Sisingamangaraja XII yang masih
kecil. Raja Buntal dan Pangkilim. Menyusul Boru Situmorang Ibunda Sisingamangaraja
XII juga ditangkap, menyusul Sunting Mariam, putri Sisingamangaraja XII dan lain-lain.

Tahun 1907, di pinggir kali Aek Sibulbulon, di suatu desa yang namanya Si Onom
Hudon, di perbatasan Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Dairi yang sekarang,
gugurlah Sisingamangaraja XII oleh peluru Marsuse Belanda pimpinan Kapten Christoffel.
Sisingamangaraja XII gugur bersama dua putranya Patuan Nagari dan Patuan Anggi
serta putrinya Lopian. Pengikut-pengikutnya berpencar dan berusaha terus mengadakan
perlawanan, sedangkan keluarga Sisingamangaraja XII yang masih hidup ditawan, dihina
dan dinista, mereka pun ikut menjadi korban perjuangan. Gugurnya Sisingamangaraja XII
merupakan pertanda jatunya tanah Batak ke tangan Belanda.
Pada saat Sisingamangaraja memerintah Kerajaan Bakara, Tapanuli, Sumatera
Utara, Belanda datang. Belanda ingin menguasai Tapanuli. Sisingamangaraja beserta
rakyat Bakara mengadakan perlawanan. Tahun 1878, Belanda menyerang Tapanuli.
Namun, pasukan Belanda dapat dihalau oleh rakyat. Pada tahun 1904 Belanda kembali
menyerang tanah Gayo. Pada saat itu Belanda juga menyerang daerah Danau Toba.
Pada tahun 1907, pasukan Belanda menyerang kubu pertahanan pasukan
Sisingamangaraja XII di Pakpak. Sisingamangaraja gugur dalam penyerangan itu.
Jenazahnya dimakamkan di Tarutung, kemudian dipindahkan ke Balige.
23. 2.4.8 Perang Aceh (1873-1906)
Perang Aceh ialah perang Kesultanan Aceh melawan Belanda dimulai pada 1873 sampai
1904. Kesultanan Aceh menyerah pada 1904, tapi perlawanan rakyat Aceh dengan
perang gerilya terus berlanjut. Pada tanggal 26 Maret 1873 Belanda menyatakan perang
kepada Aceh, & mulai melepaskan tembakan meriam ke daratan Aceh dari kapal perang
Citadel van Antwerpen.
Pada 8 April 1873, Belanda mendarat di Pantai Ceureumen di bawah pimpinan
Johan Harmen Rudolf Köhler, & langsung bisa menguasai Masjid Raya Baiturrahman.
Köhler saat itu membawa 3. 198 tentara. Sebanyak 168 di antaranya para perwira.
Perang Aceh disebabkan karena:
a. Belanda menduduki daerah Siak. Akibat dari Perjanjian Siak 1858. Di mana
Sultan Ismail menyerahkan daerah Deli, Langkat, Asahan & Serdang kepada
Belanda, padahal daerah-daerah itu sejak Sultan Iskandar Muda, berada di
bawah kekuasaan Aceh.
b. Belanda melanggar perjanjian Siak, maka berakhirlah perjanjian London tahun
1824. Isi perjanjian London ialah Belanda & Britania Raya membuat ketentuan
tentang batas-batas kekuasaan kedua daerah di Asia Tenggara yaitu dengan garis
lintang Singapura. Keduanya mengakui kedaulatan Aceh.
c. Aceh menuduh Belanda tak menepati janjinya, sehingga kapal-kapal Belanda yg
lewat perairan Aceh ditenggelamkan oleh pasukan Aceh. Perbuatan Aceh ini
didukung Britania.
d. Dibukanya Terusan Suez oleh Ferdinand de Lesseps. Menyebabkan perairan Aceh
menjadi sangat penting untuk lalu lintas perdagangan.

e. Ditandatanganinya Perjanjian London 1871 antara Inggris & Belanda, yang berisi :
Britania memberikan keleluasaan kepada Belanda untuk mengambil tindakan di
Aceh; Belanda harus menjaga keamanan lalulintas di Selat Malaka; Belanda
mengizinkan Britania bebas berdagang di Siak & menyerahkan daerahnya di
Guyana Barat kepada Britania.
f. Akibat perjanjian Sumatera 1871, Aceh mengadakan hubungan diplomatik dengan
Konsul Amerika Serikat, Kerajaan Italia, Kesultanan Usmaniyah di Singapura. Dan
mengirimkan utusan ke Turki Usmani pada tahun 1871.
g. Akibat hubungan diplomatik Aceh dengan Konsul Amerika, Italia & Turki di
Singapura, Belanda menjadikan itu sebagai alasan untuk menyerang Aceh. Wakil
Presiden Dewan Hindia Frederik Nicolaas Nieuwenhuijzen dengan 2 kapal
perangnya datang ke Aceh & meminta keterangan dari Sultan Machmud Syah
tentang apa yg sudah dibicarakan di Singapura itu, tetapi Sultan Machmud menolak
untuk memberikan keterangan.
Strategi Siasat Snouck Hurgronje Mata-mata Belanda
Untuk mengalahkan pertahanan & perlawan Aceh, Belanda memakai tenaga ahli Dr.
Christiaan Snouck Hurgronje yg menyamar selama 2 tahun di pedalaman Aceh untuk
meneliti kemasyarakatan & ketatanegaraan Aceh. Ia mempelajari bahasa, adad istiadat,
kepercayaan dan waktu orang-orang Aceh. Dari hasil penelitiannya akhirnya dapat
diketahui bahwa sebenarnya Sultan Aceh itu tidak mempunyai kekuatan apa-apa tanpa
persetujuan dari kepala-kepala yang ada di bawahnya. Selain itu juga dijelaskan bahwa
pengaruh kaum ulama pada rakyat adalah sangat besar. Karena itu dirasa sulit untuk
menundukkan rakyat yang berkeyakinan agama yang kuat sepeti rakyat Aceh itu
(Wiharyanto : tt). Hasil kerjanya itu dibukukan dengan judul Rakyat Aceh (De Acehers).
Dalam buku itu disebutkan strategi bagaimana untuk menaklukkan Aceh. Usulan strategi
Snouck Hurgronje kepada Gubernur Militer Belanda Joannes Benedictus van Heutsz
adalah, supaya golongan Keumala yaitu Sultan yg berkedudukan di Keumala dengan
pengikutnya dikesampingkan dahulu.
Gambar 3.11. Snouck Hurgronje
Tetap menyerang terus & menghantam terus kaum ulama. Jangan mau berunding
dengan pimpinan-pimpinan gerilya. Mendirikan pangkalan tetap di Aceh Raya.

Menunjukkan niat baik Belanda kepada rakyat Aceh, dengan cara mendirikan langgar,
masjid, memperbaiki jalan-jalan irigasi & membantu pekerjaan sosial rakyat Aceh.
Ternyata siasat Dr Snouck Hurgronje diterima oleh Van Heutz yg menjadi Gubernur
militer & sipil di Aceh (1898-1904).
Kemudian Dr Snouck Hurgronje diangkat sebagai penasehatnya.
Kronologi Perang Aceh Pertama
Perang Aceh Pertama (1873-1874) dipimpin oleh Panglima Polim & Sultan Mahmud
Syah melawan Belanda yg dipimpin Köhler. Köhler dengan 3000 serdadunya dapat
dipatahkan, dimana Köhler sendiri tewas pada tanggal 14 April 1873. Sepuluh hari
kemudian, perang berkecamuk di mana-mana. Yang paling besar saat merebut kembali
Masjid Raya Baiturrahman, yg dibantu oleh beberapa kelompok pasukan. Ada di Peukan
Aceh, Lambhuk, Lampu’uk, Peukan Bada, sampai Lambada, Krueng Raya. Beberapa
ribu orang juga berdatangan dari Teunom, Pidie, Peusangan, & beberapa wilayah lain.
Perang Aceh Pertama ialah ekspedisi Belanda terhadap Aceh pada tahun 1873 yg
bertujuan mengakhiri Perjanjian London 1871, yg menindaklanjuti traktat dari tahun 1859
(diputuskan oleh Jan van Swieten). Melalui pengesahan Perjanjian Sumatera, Belanda
berhak mendapatkan pantai utara Sumatera yg di situ banyak terjadi perompakan.
Komisaris Pemerintah Frederik Nicolaas Nieuwenhuijzen yg mengatur Aceh mencoba
mengadakan perundingan dengan Sultan Aceh namun tak mendapatkan apa yg
diharapkan sehingga ia menyatakan perang pada Aceh atas saran GubJen James
Loudon. Blokade pesisir tak berjalan sesuai yg diharapkan.
Belanda kemudian memerintahkan ekspedisi pertama ke Aceh, di bawah pimpinan
Jenderal Johan Harmen Rudolf Köhler & sesudah kematiannya tugasnya digantikan oleh
Kolonel Eeldert Christiaan van Daalen. Dalam ekspedisi tersebut dipergunakan senapan
Beaumont untuk pertama kalinya namun ekspedisi tersebut berakhir dengan kembalinya
pasukan Belanda ke Jawa. Tak dapat disangkal bahwa Masjid Raya Baiturrahman
direbut 2 kali (dan di saat yg kedua kalinya tewaslah Köhler). Terjadi serbuan beruntun
ke istana pada tanggal 16 April di bawah pimpinan Mayor F. P. Cavaljé namun tak dapat
menduduki lebih lanjut karena keulungan orang Aceh serta banyaknya serdadu yg tewas
& terluka. Serdadu Belanda tak cukup persiapan yg harus ada untuk serangan tersebut.
Di samping itu, jumlah artileri (berat) tak cukup & mereka tak cukup mengenali musuh.
Mereka sendiri harus menarik diri dari pesisir & atas petunjuk Komisaris F. N.
Nieuwenhuijzen (yang menjalin komunikasi dengan GubJen Loudon) & kembali ke Pulau
Jawa.
Menurut George Frederik Willem Borel, kapten artileri, serdadu dapat memperoleh
pesisir bila mendapatkan titik lain yg agak lebih kuat, namun Komandan Marinir
Koopman tak dapat memberikan kepastian bahwa ada hubungan yg teratur antara
bantaran sungai & saat itu sedang berlangsung muson yg buruk, yg karena itulah
kedatangan pasukan baru jadi sulit. Setelah kembalinya ekspedisi itu, angkatan tersebut
banyak disalahkan akibat kegagalan ekspedisi itu. Dari situlah GubJen James Loudon
mengadakan penyelidikan di mana para bawahan harus memberikan penilaian atas

atasan mereka. Penyelidikan tersebut kemudian juga banyak menuai kontroversi &
menimbulkan “perang kertas” sesudah Perang Aceh I (dokumen & tulisan pro & kontra
penyelidikan tersebut terjadi terus menerus).
Penyelidikan itu masih berawal, sesudah Perang Aceh II, ketika kapten & kepala
staf Brigade II GCE. van Daalen menolak untuk ditekan GubJen Loudon. Alasan
sebelumnya ialah selama itu Loudon telah memerintahkan penyelidikan yg untuk itu
pamannya EC. van Daalen, yg merupaken panglima tertinggi ekspedisi pertama sesudah
kematian panglima tertinggi sebelumnya Johan Harmen Rudolf Kohler, sebagai orang
jenius yg malang sesudah kegagalan ekspedisi tersebut, dihadirkan & selama
penyelidikan itu (meskipun kemudian meninggal) Van Daalen, komandan Pasukan
Hindia, Willem Egbert Kroesen mengetahui bahwa pemerintah Hindia-Belanda tak diberi
cukup informasi atas terganggunya pembekalan senjata pada pasukan itu. Loudon tak
mengizinkan Van Daalen (keponakan) mendapatkan Militaire Willems-Orde & untuk itu
memandang bahwa Van Daalen harus terus dikirimi uang tunjangan pensiun. Raja
Willem II mulai menganugerahkan Medali Aceh 1873-1874 pada tanggal 12 Mei 1874.
Yang khas ialah pembawa medali tersebut juga dapat diberi gesper bertulisan “ATJEH
1873-1874? pada pita Ereteken voor Belangrijke Krijgsbedrijven. Terdapat pula salib
Militaire Willems-Orde & Medaille voor Moed en Trouw.
Perang Aceh Kedua
Pada Perang Aceh Kedua (1874-1880), di bawah Jend. Jan van Swieten, Belanda
berhasil menduduki Keraton Sultan, 26 Januari 1874, & dijadikan sebagai pusat
pertahanan Belanda. 31 Januari 1874 Jenderal Van Swieten mengumumkan bahwa
seluruh Aceh jadi bagian dari Kerajaan Belanda. Ketika Sultan Machmud Syah wafat 26
Januari 1874, digantikan oleh Tuanku Muhammad Dawood yg dinobatkan sebagai
Sultan di masjid Indragiri.
Perang Aceh Kedua diumumkan oleh KNIL terhadap Aceh pada tanggal 20
November 1873 sesudah kegagalan serangan pertama. Pada saat itu, Belanda sedang
mencoba menguasai seluruh Nusantara. Ekspedisi yg dipimpin oleh Jan van Swieten itu
terdiri atas 8. 500 prajurit, 4. 500 pembantu & kuli, & belakangan ditambahkan 1. 500
pasukan. Pasukan Belanda & Aceh sama-sama menderita kolera. Sekitar 1. 400 prajurit
kolonial meninggal antara bulan November 1873 sampai April 1874.
Setelah Banda Aceh ditinggalkan, Belanda bergerak pada bulan Januari 1874 &
berpikir mereka telah menang perang. Mereka mengumumkan bahwa Kesultanan Aceh
dibubarkan & dianeksasi. Namun, kuasa asing menahan diri ikut campur, sehingga
masih ada serangan yg dilancarkan oleh pihak Aceh. Sultan Mahmud Syah &
pengikutnya menarik diri ke bukit, & sultan meninggal di sana akibat kolera. Pihak Aceh
mengumumkan cucu muda Tuanku Ibrahim yg bernama Tuanku Muhammad Daud
Syah, sebagai Sultan Ibrahim Mansur Syah (berkuasa 1874-1903).
Perang pertama & kedua ini ialah perang total & frontal, dimana pemerintah masih
berjalan mapan, meskipun ibu kota negara berpindah-pindah ke Keumala Dalam,
Indrapuri, & tempat-tempat lain.

Perang Aceh Ketiga
Perang ketiga (1881-1896), perang dilanjutkan secara gerilya & dikobarkan perang
fisabilillah. Dimana sistem perang gerilya ini dilangsungkan sampai tahun 1904. Perang
gerilya ini pasukan Aceh di bawah Teuku Umar bersama
Panglima Polim & Sultan. Pada tahun 1899 ketika terjadi serangan mendadak dari pihak
Van der Dussen di Meulaboh, Teuku Umar gugur. Tetapi Cut Nyak Dhien istri Teuku
Umar kemudian tampil menjadi komandan perang gerilya.
Perang Aceh Keempat
Perang keempat (1896-1910) ialah perang gerilya kelompok & perorangan dengan
perlawanan, penyerbuan, penghadangan & pembunuhan tanpa komando dari pusat
pemerintahan Kesultanan.
Taktik Perang Belanda Menghadapi Aceh
Taktik perang gerilya Aceh ditiru oleh Van Heutz, dimana dibentuk pasukan
maréchaussée yg dipimpin oleh Hans Christoffel dengan pasukan Colone Macan yg
telah mampu & menguasai pegunungan-pegunungan, hutan-hutan rimba raya Aceh
untuk mencari & mengejar gerilyawan-gerilyawan Aceh. Taktik berikutnya yg dilakukan
Belanda ialah dengan cara penculikan anggota keluarga gerilyawan Aceh. Misalnya
Christoffel menculik permaisuri Sultan & Tengku Putroe (1902).
Van der Maaten menawan putera Sultan Tuanku Ibrahim. Akibatnya, Sultan
menyerah pada tanggal 5 Januari 1902 ke Sigli & berdamai. Van der Maaten dengan
diam-diam menyergap Tangse kembali, Panglima Polim dapat meloloskan diri, tetapi
sebagai gantinya ditangkap putera Panglima Polim, Cut Po Radeu saudara
perempuannya & beberapa keluarga terdekatnya. Akibatnya Panglima Polim meletakkan
senjata & menyerah ke Lhokseumawe pada Desember 1903. Setelah Panglima Polim
menyerah, banyak penghulu-penghulu rakyat yang menyerah mengikuti jejak Panglima
Polim.
Taktik selanjutnya, pembersihan dengan cara membunuh rakyat Aceh yg
dilakukan di bawah pimpinan Gotfried Coenraad Ernst van Daalen yg menggantikan
Van Heutz. Seperti pembunuhan di Kuta Reh (14 Juni 1904) dimana 2. 922 orang
dibunuhnya, yg terdiri dari 1. 773 laki-laki & 1. 149 perempuan. Taktik terakhir
menangkap Cut Nyak Dhien istri Teuku Umar yg masih melakukan perlawanan secara
gerilya, dimana akhirnya Cut Nya Dien dapat ditangkap & diasingkan ke Sumedang.
24. Surat Perjanjian Tanda Menyerah Pemimpin Aceh
Selama perang Aceh, Van Heutz telah menciptakan surat pendek (korte verklaring,
Traktat Pendek) tentang penyerahan yg harus ditandatangani oleh para pemimpin Aceh
yg telah tertangkap & menyerah. Di mana isi dari surat pendek penyerahan diri itu
berisikan, Raja (Sultan) mengakui daerahnya sebagai bagian dari daerah Hindia

Belanda, Raja berjanji tak akan mengadakan hubungan dengan kekuasaan di luar
negeri, berjanji akan mematuhi seluruh perintah-perintah yg ditetapkan Belanda.
Perjanjian pendek ini menggantikan perjanjian-perjanjian terdahulu yg rumit &
panjang dengan para pemimpin setempat. Walau demikian, wilayah Aceh tetap tak bisa
dikuasai Belanda seluruhnya, dikarenakan pada saat itu tetap saja terjadi perlawanan
terhadap Belanda meskipun dilakukan oleh sekelompok orang (masyarakat). Hal ini
berlanjut sampai Belanda enyah dari Nusantara & diganti kedatangan penjajah baru
yakni Jepang.
2.5Perlawanan Bangsa Indonesia terhadap Penjajahan Inggris
2.5.1 Perlawanan Kraton Yogyakarta terhadap Penjajahan Bangsa Inggris
Pada saat Inggris berkuasa menggantikan Belanda di Jawa, yang mengisi
kekuasaan di pusat adalah Raffles, sedangkan Karesidenan Yogyakarta adalah John
Crawfurd. Saat itu, Karesidenan Yogyakarta dipimpin oleh Sultan Hamengkubuwana II
atau Sultan Sepuh. Sultan HB II terkenal keras dan sangat menentang pemerintah
kolonial sehingga membuat orang Eropa (Inggris) terganggu. Sikap kerasnya tersebut
terlihat ketika Raffles untu pertama kali datang ke Yogyakarta pada bulan Desember
1811. Saat itu, Sultan HB II berani bertengkar dengan Raffles. Selanjutnya, juga terjadi
pada awal Januari 1812. Dalam pertemuan ini ada insiden kecil yang terjadi ketika
tempat duduk Raffles di Keraton Yogyakarta dibuat lebih rendah dari Sultan HB II.
Insiden ini pun berhasil diatasi.
Gambar 3.12 Sir Thomas Stamford Faffles
Sultan HB II tidak puas dengan hasil pertemuannya dengan Raffles. Sultan HB II
semakin kecewa dengan pemerintah Inggris. Secara diam-diam, Sunan Pakubuwana IV (Sultan
PB IV) mengutus Tumenggung Ronowijoyo untuk menghadap Sultan HB II dengan membawa
surat. Dalam surat itu, Sunan PB IV mengusulkan kerja sama untuk melawan Inggris dan bila
berhasil akan membagi 2 wilayah yang telah dirampas oleh orang Eropa. Sultan HB II menyetujui

hal itu dan mengirimkan Tumenggung Sumodiningrat. Kesepakatan tercapai pada awal Mei 1812
di Klaten antara Ronowijoyo dan Sumodiningrat.
Tanpa sepengetahuan Sultan HB II, Sunan PB IV mengutus Patih Cokronegoro untuk
menemui putra mahkota Yogyakarta. Cokronegoro menyampaikan bahwa Sunan PB IV
menghendaki putra mahkota Surojo naik tahta dan bersedia membantunya. Sunan PB IV
menawarkan untuk kerja sama melawan Inggris dan ketika Inggris berhasil diusir dari Jawa,
wilayah Jawa akan dibagi 2 antara Surakarta dan Yogyakarta. Rencana ini pun tercium oleh
John Crawfurd yang segera mengirimkan berita itu pada Raffles. Setelah mendengar berita
tersebut, Raffles memerintahkan Mayor Jenderal Gillespie untuk berangkat ke Yogyakarta dan
menyerbu Keraton Yogyakarta.
Pada tanggal 19-20 Juni 1812, Inggris menyerbu Keraton Yogyakarta. Dalam
pertempuran 2 hari, Inggris berkekuatan 1000 serdadu berseragam merah. Jumlah itu masih
ditambah 500 prajurit Leguin Pangeran Prangwedono dari Mangkunegaran, Surakarta. Sultan
HB II yang menghadapi Inggris tidak mendapat bantuan dari Surakarta seperti yang tertulis
dalam surat rahasia bahwa Surakarta akan membantu Yogyakarta dalam melakukan perlawanan
terhadap Inggris. Perang ini diakhiri dengan menyerahnya Sultan HB II dan dimulainya
penjarahan besar-besaran harta, pusaka, dan pustaka Keraton Yogyakarta. Setelah itu, Raffles
memerintahkan penangkapan Sultan HB II. Sultan HB II dibawa ke Batavia dan menunggu
pengadilan disana. Sultan HB II dijatuhi hukuman pembuangan ke Pulau Penang pada awal Juli
1812. PB IV pun dirampas sebagian wilayahnya.
25. 2.5.2 Perlawanan Rakyat Palembang terhadap Penjajahan Bangsa Inggris
Raffles mengirim 3 orang utusan yang dipimpin oleh Richard Philips ke Palembang untuk
mengambil alih kantor sekaligus benteng Belanda di Palembang dan meminta hak kuasa sultan
atas tambang timah di Pulau Bangka. Sultan Mahmud Badaruddin II menolak permintaan itu
dengan merujuk pada surat Raffles sebelumnya bahwa kalau Belanda berhasil diusir,
Palembang akan menjadi kesultanan yang merdeka. Raffles pun kaget luar biasa setelah
mengetahui bahwa dengan cerdas Sultan Mahmud Badaruddin II menjadikan isi suratnya dahulu
sebagai legitimasi untuk melepaskan diri dari kekuasaan Inggris.
Raffles pun memilih untuk mengkhianati janjinya tersebut. Ia mengirim ekspedisi perang di
tahun 1812 yang dipimpin Mayor Jenderal Robert Gillespie. Ekspedisi pun sampai dalam waktu 1
bulan di Sungai Musi. Sultan Mahmud Badaruddin II juga sudah bersiap-siap menghadapi
gempuran tersebut (Aidil, Muhammad : 2016).
Kesultanan Palembang akhirnya jatuh ke tangan Inggris hanya dalam waktu 1 minggu
karena pertahanan di Pulau Borang sudah jebol tanpa perlawanan yang berarti. Ternyata adik
sultan yang bernama Pangeran Adipati Ahmad Najamuddin telah menjadi komandan yang
pengecut bagi pasukannya di pulau yang strategis itu. Mengetahui hal itu, Sultan Mahmud
Badaruddin II segera meninggalkan keraton Palembang dengan membawa seluruh tanda
kebesaran kesultanan lalu mempersiapkan perlawanan gerilya terhadap Inggris.

Gambar 3.13. Sultan Mahmud Badaruddin II
Tanggal 26 April 1812, bendera Inggris sudah berkibar di atas benteng Palembang. Dan
tanggal 14 Mei 1812, Najamuddin diangkat oleh Robert Gillespie atas nama Inggris untuk
menggantikan kakanya sebagai Sultan Palembang. Tambang timah di Pulau Bangka dan
Belitung akhirnya diserahkan oleh sultan boneka ini kepada Inggris. Robert Gillespie ditarik
pulang ke Batavia karena keberhasilannya dan digantikan oleh Kapten R. Mearers menjadi
Residen Palembang. Pertengahan Agustus 1812, Mearers memimpin pasukannya untuk
menyerang Sultan Mahmud Badaruddin II di Buaya Langu, hulu Sungai Musi. Mearers
mengalami luka parah dalam pertempuran ini yang akhirnya meninggal di rumah sakit di Muntok.
Mearers digantikan oleh Mayor William Robinson. Tampaknya ia tidak cocok dengan
Sultan Najamuddin yang dinilai menjadi sultan yang lemah dan tidak dihargai oleh rakyat.
Robinson tidak setuju dengan keputusan Raffles yang mengangkat sultan tersebut, dan juga ia
tidak suka dengan kebiasaan Raffles yang suka mengumbar janji, juga pembiaran yang
dilakukan Raffles pada peristiwa pembantain paukan Belanda. Atas inisiatifnya sendiri, Robinson
mengirim seorang perwira didampingi penerjemah untuk bernegosiasi dengan Sultan Mahmud
Badaruddin II, namun gagal.
Pada tangal 19 Juni 1813, Robinson datang sendiri untuk menemui Sultan Mahmud
Badaruddin II di Muara Rawas. Misi yang dilaksanakan Robinson pun berhasil. Sultan Mahmud
Badaruddin II mau kembali ke Palembang untuk menggantikan adiknya. Akhirnya, tanggal 13 Juli
1813, Sultan Mahmud Badaruddin II kembali ke istananya (keraton besar) di Palembang,
sementara adiknya bertempat tinggal di keraton lama.
Raffles sangat tersinggung dengan keputusan Robinson karena tidak meminta
pendapatnya dulu. Akhirnya, perjanjian Robinson dengan Sultan Mahmud Badaruddin II
dibatalkan sepihak. Robinson pun dipecat dan ditangkap dengan alasan menerima suap dari
Sultan Mahmud Badaruddin II. Tanggal 4 Agustus 1813, armada Inggris dipimpin Mayor W.
Colebrooke tiba di Palembang untuk menurunkan Sultan Mahmud Badaruddin II dari tahtanya
kembali untuk digantikan oleh Sultan Najamuddin. Uang yang dikatakan uang suap untuk
Robinson dikembalikan pihak Inggris ke Sultan Mahmud Badaruddin II lengkap dengan
bunganya. Dan tanggal 21 Agustus 1813, Sultan Najamuddin kembali menduduki tahtanya di
keraton besar.

26. H. Rangkuman
1. Perlawanan terhadap Portugis dilakukan oleh beberapa kerajaan di Nusantara. Raja Kerajaan
Aceh yang terkenal sangat gigih melawan Portugis adalah Iskandar Muda. Pada tahun 1615 dan
1629, Iskandar Muda melakukan serangan terhadap Portugis di Malaka. Selain itu ada pula
Perlawanan kesultanan Demak yang terjadi karena kesultanan Demak juga merasa terancam
terhadap kedudukan Portugis di Malaka. Di bagian timur, perlawanan Rakyat Ternate dipimpin
oleh Sultan Hairun, yang kemudian dilanjutkan oleh Sultan Baabullah yang bersama-sama
dengan rakyat Ternate mengepung benteng Portugis selama lima tahun hingga akhirnya Portugis
menyingkir ke Hitu dan akhirnya menguasai Timor Timur.
2. Perlawanan terhadap penjajahan Spanyol terjadi tahun 1644 sampai 1694. Perang disebabkan
oleh ketidaksenangan orang Minahasa terhadap usaha monopoli perdagangan beras yang
dilakukan Spanyol dan kekejamankekejaman tentara. Perang Spanyol dengan Minahasa telah
terjadi sejak awal kedatangan Spanyol di tanah Minahasa. Namun perlawanan semakin terbuka
terjadi sejak tahun 1644. Mahassa (komitmen untuk menyatu) diikrarkan. Di berbagai tenpat di
Minahasa terjadi pertempuran-pertempuran antara orangorang Minahasa dibawah pimpinan para
panglima perang Minahasa melawan Spanyol yang dibantu Kerajaan Bolaang Mongondow.
Akhirnya pasukan Spanyol dan Bolaang Mongondow berhasil dipukul mundur dari Minahasa
September 1694.
3. Perlawanan terhadap penjajahan Belanda dilatarbelakangi oleh campur tangan pemerinatahan
kerajaan/kesultanan di Indonesia, monopoli perdagangan, kerja paksa, penarikan pajak, sewa
tanah, dan tanam paksa menimbulkan banyak kerugian dan membuat sengsara rakyat Indonesia.
Rakyat Indonesia tidak tahan lagi. Rakyat Indonesia melakukan perlawanan memperjuangkan
martabat dan kemerdekaannya. Dari seluruh penjuru tanah air timbul perlawanan terhadap
penjajah Belanda.
4. Perlawanan rakyat Maluku terhadap Belanda dipimpin oleh Pattimura, Anthony Ribok, Philip
Latumahina, Ulupaha, Paulus Tiahahu, Christina Martha Tiahahu. (1817). Rakyat Maluku
melawan Belanda karena mereka dipaksa kerja paksa, dipaksa menyerahkan ikan asin, dendeng
dan kopi, dan perahu-perahu mereka dipaksa dibeli Belanda dengan harga yang murah. Di
Sumatra Barat, kaum Padri mengangkat senjata melawan Belanda karena Belanda selalu
mencampuri persoalan kaum padri dan kaum adat, dan Belanda sering memihak kaum adat.
Perlawanan kaum Padri ini dipimpin oleh Datuk Bandaro, Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Nan
Renceh dan Tuanku Pasaman, dan berlangsung dari tahun 1821 hingga 1837.
5. Kesewenang-wenangan Belanda di Jawa juga menyebabkan timbulnya perlawanan rakyat yang
dipimpin oleh Pangeran Diponegoro dari tahun 1825 sampai dengan 1830. Perlawanan ini
membawa kerugian yang banyak bagi perekonomian dan pemerintahan Beelanda di Indonesia.
Di Banjarmasin rakyat juga bergerak melawan Belanda karena Belanda memonopoli
perdagangan, ikut campur pemerintahan Keraton Banjar dan hendak menghapuskan
Kesultanan Banjar. Perlawanan rakyat Banjarmasin ini dipimpin oleh Pangeran Antasari. Rakyat
Bali juga bergerak melawan Belanda yang terutama disebabkan oleh keinginan Belanda
menghapus hak tawan karang di Bali. I Gusti Made Karangasem memimpin perlawanan rakyat
Bali terhadap Belanda yang kemudian diteruskan oleh I Gusti Ketut Jelantik. ,Dalam perang

melawan Belanda ini rakyat Bali mengadakan perang puputan, yaitu berperang sampai titik
darah terakhir.
6. Akibat penderitaan yang hebat di Sumatra Utara juga terjadi perlawanan rakyat yang dipimpin
oleh Sisingamangaraja XII dari tahun 1870 sampai dengan 1907. Sementara itu di ujung barat
pulau Sumatra terjadi pula perlawanan yang sengit melawan kaum kolonial Belanda.
Perlawanan rakyat Aceh terjadi hingga empat kali. Perlawanan Aceh pertama terjadi tahun
1873-1874 dipimpin oleh Panglima Polim & Sultan Mahmud Syah. Perlawanan rakyat Aceh
kedua terjadi tahun 1874-1880 dipimpin oleh Tuanku Muhammad Dawood. Perlawanan rakyat
Aceh ketiga terjadi tahun 1881-1896 dipimpin oleh . Teuku Umar, Panglima Polim, dan Cut
Nyak Dhien. Perlawanan rakyat Aceh keempat terjadi tahun 1896-1910 dengan penyerbuan,
penghadangan dan pembunuhan secara perorangan dan kelompok tanpa komando dari
pemimpin pusat.
7. Perlawanan terhadap Inggris dilakukan di beberapa wilayah. Di Yogyakarta, Sultan HB II berani
bertengkar dengan Raffles. Selanjutnya, juga terjadi pada awal Januari 1812. Dalam pertemuan
ini ada insiden kecil yang terjadi ketika tempat duduk Raffles di Keraton Yogyakarta dibuat lebih
rendah dari Sultan HB II. Insiden ini pun berhasil diatasi. Di Palembang, Raffles mengirim 3
orang utusan yang dipimpin oleh Richard Philips ke Palembang untuk mengambil alih kantor
sekaligus benteng Belanda di Palembang dan meminta hak kuasa sultan atas tambang timah
di Pulau Bangka. Sultan Mahmud Badaruddin II menolak permintaan itu dengan merujuk pada
surat Raffles sebelumnya bahwa kalau Belanda berhasil diusir, Palembang akan menjadi
kesultanan yang merdeka. Raffles pun kaget luar biasa setelah mengetahui bahwa dengan
cerdas Sultan Mahmud Badaruddin II menjadikan isi suratnya dahulu sebagai legitimasi untuk
melepaskan diri dari kekuasaan Inggris.
I. Uji Kompetensi
1. Pada awalnya Ternate menerima dengan baik kedatangan bangsa Portugis ke wilayahnya
dengan alasan Portugis telah …… A. Membantu Ternate untuk menghadapi Malaka
B. Membuat Perdagangan di Ternate menjadi lebih maju
C. Membantu Ternate dalam menghadapi Tidore dan Spanyol
D. Membantu Ternate membangun sistem pertahanan kota yang modern E. Menunjukkan
sikap yang baik terhadap rakyat Ternate
2. Perlawanan rakyat terhadap kolonialisme Belanda terjadi di daerah-daerah berikut, kecuali…
A. Tapanuli dan Nusa Tenggara
B. Sulawesi Selatan dan Madura
C. Kalimantan Selatan dan Menado
D. Maluku dan Jambi
E. Nusa Tenggara dan Madura
3. Perhatikan data di bawah
Pernyataan Perlawanan yang terjadi pada masa kolonial kebanyakan dipimpin oleh
para petani.
Sebab Para petanilah yang paling banyak menderita pada masa kolonial.

Pilihan jawaban yang tepat adalah....
A. Pernyataan benar, alasan benar, dan menunjukkan hubungan sebab akibat
B. Pernyataan benar, alasan benar, tetapi tidak menunjukkan hubungan sebab akibat
C. Pernyataan benar, alasan salah
D. Pernyataan salah, alasan benar
E. Pernyataan salah, alasan salah
4. Perhatikan data di bawah!
(i) Tertangkapnya Kyai Maja dan Sentot Alibasyah
(ii) Dukungan legion Mangkunegaran terhadap Belanda
(iii)Dilancarkannya siasat perang berbenteng oleh Belanda
(iv)Banyaknya penguasa lokal yang memihak Belanda
(v) Belanda meminta bantuan dari Inggris
Faktor yang menyebabkan kekalahan Diponegoro adalah....
A. 1, 2, 3
B. 2, 3, 4
C. 1, 3, 4
D. 3, 4, 5 E. 1, 3, 5
5. Perhatikan data di bawah!
Pernyataan Tujuan utama gerakan Padri di Sumatera Barat pada awal abad 19M
adalah membatasi kekuasaan raja Minangkabau yang berkedudukan di
Istana Pagarruyung.
Sebab Upaya golongan adat menghalang-halangi gerakan Padri mendorong
terjadinya perang saudara.
Pilihan jawaban yang tepat adalah....
A. Pernyataan benar, alasan benar, dan menunjukkan hubungan sebab akibat
B. Pernyataan benar, alasan benar, tetapi tidak menunjukkan hubungan sebab akibat
C. Pernyataan benar, alasan salah
D. Pernyataan salah, alasan benar
E. Pernyataan salah, alasan salah
6. Perhatikan data berikut!
(1) Raja sisimangaraja XII tidak bersedia wilayah kekuasaanya semakin diperkecil oleh Belanda
(2) Belanda mempunyai keinginan mewujudkan pax netherlandic
(3) Adanya plakat pendek
(4) Banyak menguras kas belanda
Alasan terjadinya perlawanan masyarakat Batak ditunjukkan pada nomor…
A. 1 dan 2
B. 1 dan 3
C. 2 dan 3
D. 2 dan 4 E. 3 dan 4
7. Perhatikan data di bawah!
Pernyataan Pada tahun 1841, Belanda membujuk raja-raja Badung, Klungkung,
Karangasem, dan Buleleng untuk menandatangani sejumlah perjanjian
yang mengakui kedaulatan pemerintahan kolonial Belanda.

Sebab Tujuan utama politik Belanda di Bali adalah untuk membuat dasar hukum
yang menutup Bali untuk kekuatan-kekuatan barat lainnya.
Pilihan jawaban yang tepat adalah....
A. Pernyataan benar, alasan benar, dan menunjukkan hubungan sebab akibat
B. Pernyataan benar, alasan benar, tetapi tidak menunjukkan hubungan sebab akibat
C. Pernyataan benar, alasan salah
D. Pernyataan salah, alasan benar
E. Pernyataan salah, alasan salah
8. Perhatikan data di bawah!
Pernyataan Sebagian besar gerakan dan pemberontakan di Indonesia yang terjadi pada
abad ke-19 bersifat lokal dengan dipimpin oleh kalangan agamawan atau
pemimpin setempat.
Sebab Pemberontakan tersebut menunjukan penduduk pribumi tidak rela dijajah
oleh penguasa kolonial Belanda dan mereka menginginkan Indonesia
menjadi negara merdeka dan berdaulat penuh terbebas dari intervensi
asing.
Pilihan jawaban yang tepat adalah....
A. Pernyataan benar, alasan benar, dan menunjukkan hubungan sebab akibat
B. Pernyataan benar, alasan benar, tetapi tidak menunjukkan hubungan sebab akibat
C. Pernyataan benar, alasan salah
D. Pernyataan salah, alasan benar
E. Pernyataan salah, alasan salah
9. Berikut ini yang merupakan ciri Perang Aceh adalah…
(1) Berlangsung lama
(2) Dipimpin oleh tokoh-tokoh agama
(3) Bersifat perang rakyat semesta
(4) Merupakan perlawanan paling berat yang dihadapi Belanda Pilihan jawaban :
A. Jika uraian 1,2, dan 3 benar
B. Jika uraian 1 dan 3 benar
C. Jika uraian 2 dan 4 benar
D. Jika uraian 4 benar
E. Jika semuanya benar
10. Ciri perjuangan bangsa Indonesia melawan Belanda sebelum abad ke-20 adalah
seperti tersebut di bawah ini, kecuali:
A. Bersifat kedaerahan
B. Perjuangan berupa fisik
C. Tergantung pada pemimpin
D. Bersifat sporadis
E. Tidak ada tujuan yang jelas
DAFTAR PUSTAKA
Aidil, Muhammad. 2016. Strategi Perlawanan Bangsa Indonesia terhadap
Penjajahan Bangsa Barat.
http://muhammadaidil0703.blogspot.co.id/2016_09_01_archive.html (diunduh tanggal 21
April 2018)
Indsejarah.net. 2015.
Sejarah Penjajahan Belanda di Indonesia. ww.idsejarah.net /2016/10/
sejarah-penjajahan-belanda-di-indonesia.html (diunduh 11 april 2018)
Insulinda. 2015.
Penjajahan Bangsa Portugis dan Spanyol di Indonesia.
https://insulinda. wordpress.com /2015 /09/08/penjajahan-bangsa-portugisdan-spanyol-diindonesia/ (diunduh 11 april 2018)
Kemendikbud. 2016.
Guru Pembelajar, Modul Pelatihan Guru Mata Pelajaran Sejarah
SMA/SMK
. Jakarta: Kemendikbud
Kartodirjo, Sartono. 1987.
Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500-1900 dari Emporium Sampai
Imperium
. Jakarta:PT Gramedia.
------------. 1992.
Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah. Jakarta : Gramedia
Pustaka Utama.
Nurhadi, dkk. 2009. Jelajah Cakrawala Sosial. Bandung : CV. Citra Praya
Palar H.B. 2009. Wajah Lama Minahasa. Bogor: Yayasan Gibbon Indonesia
Poesponegoro, Djoned Marwati, dan Notosusanto, Nugroho. 1993.
SejarahNasional Indonesia IV.
Jakarta : BalaiPustaka
Sardiman AM, Amurwani Dwi Lestariningsih. 2017.
Buku Guru Sejarah Indonesia
SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI
. Jakarta. Kemendikbud.
Sahid, Syahmi. 2016. Serangan Kerajaan Aceh terhadap Portugis.
http://ipsgampang.blogspot.co.id/ 2016/11/serangan-kerajaan-aceh
terhadapportugis.html (diunduh tanggal 20 April 2018)
Setyawan, Doni. 2016. Perlawanan Rakyat terhadap Portugis.
http://www.
donisetyawan.com/perlawanan-rakyat-terhadap-portugis/ (diunduh 20 April 2018)
Setiawan, Iwan. 2017.
Masuknya Bangsa Eropa ke Indonesia. https://kangone.
blogspot.co.id/ 2017/08/materi-5a-masuknya-bangsa-eropa-ke.html (diunduh 11 April
2018)
Sugeng. 2015. Perlawanan terhadap VOC.
http://pengamatsejarah.blogspot.com/2016/ 05/
perlawanan-terhadap-vocsejarah.html (diunduh tanggal 6 Oktober 2019)
Vlekke, H.M.Bernard. 2010.
Nusantara Sejarah Indonesia, Jakarta: Kepustakaan Populer
Gramedia,
Wiharyanto, A Kardiyat. TT.
Perlawanan Indonesia terhadap Belanda.
https://www.google.com/search?ei=0YfTWpXhEYTrvASR6YqgAQ&q=perlawanan+bang
sa+ind onesia+pada+kolonialisme+bangsa+barat (diunduh 12 April 2018)

KUNCI JAWABAN
1.
1. B 6. B
2. E 7. A
3. D 8. B
4. A 9. D
5. B 10. E

Komentar

Postingan populer dari blog ini